Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Cerita Aku dan Kau

 



27 Juli 2011

Wisudawan berkumpul dan berbaris memasuki sidang senat terbuka. Hari itu dia kan menyandang gelar sarjana S1 nya. Genap 8 semester dia tempuh pendidikan. Dan aku tak bisa berbuat apa – apa melihatnya akan pergi. Seperti semuanya yang memiliki keinginan dan kemauan. Mencari yang terbaik untuk masa depan dirinya. Entah mengapa egoku semakin besar berharap bersamanya. Aku tahu ini hanyalah mimpi.

“Eva, kamu gak berangkat diwisuda Mbak Erni dan Mas Wawan?,” teriak Eka

Aku menggeleng mendengar panggilan Eka dari balik pintu. Mas Wawan sosok yang membuatku bimbang akhir bulan ini. Sejak ketidaksengajaanku bercanda dengannya membuat teman–teman menjodoh–jodohkanku padanya. Hingga membuatku sedikit menyimpan perasaan terpendam pada ketua klub 2010 ini.

“Va, ayuw berangkat… Sebentar lagi acaranya dimulai. Mereka pasti nyariin kamu.”

“Kamu berangkat sendiri aja yach Ka… Aku lagi gak enak badan nich.”

“Tapi Va…?”

“Salam buat Mbak Erni dan Mas Wawan aja yach. Maaf aku gak bisa datang,” jawabku agak memelas

“Kamu yakin Va gak mau datang, ini hari terakhirmu bertemu Mas Wawan. Bentar lagi dia akan study ke luar negeri lho. Kamu gak mau ngucapin selamat va?”

“Eka, kalau aku datang, aku gak bisa menahan perasaanku. Kamu gak tahu gimana dilemanya aku. Aku malu dan gak tahu harus ngapain dengan perasaan ini.”

“ Iya, I see Va. Tapi setidaknya kamu tunjukkan perhatianmu ma dia. Dia akan mengerti. Sudahlah, gak usah dimasukkan ke hati, toh teman–teman gak tahu kan,”

Aku terdiam mendengar penuturannya. Ada benarnya aku tak menunjukkan egoku. Aku harus tetap biasa dihadapan Mas Wawan. Walau aku tak tahu apa dia mengetahui perasaanku.

“Baiklah, tunggu sebentar, aku ganti baju.”

“ Nah, Gitu donk. Jangan kau tangisi cinta terpendammu. Tapi wujudkanlah, kalau kamu pun mampu, hahaha,” ejek Eka padaku

“ Dasar kau ka. awas yach.”

“ Ampun…,” teriak Eka menghindari cubitanku. Aku berlari mengejarnya hingga dapat.

###

“Lama banget sich keluarnya para wisudawan... panas banget lagi,”keluhku

“Bentar lagi juga keluar va, sabarlah…”

“Eva dah gak sabar pengen ketemu Mas Wawan yach…,” ledek Mas Arif

“ Ihhhhh… gak lah, pengen ketemu Mbak Erni kok,” jawabku sambil tersenyum tersipu

“Hahahaha…” temen–temen klub malah menertawaiku

Tak berapa lama, “Hore!!!…” sorak sorai dari depan aula terdengar. Gegap gempita keceriaan kelulusan para wisudawan. Terlihat Mas Wawan tersenyum ditengah hiruk pikuk teman–teman sarjananya. Beriringan Mbak Erni dan dia menuju stan klub kita.

“Kak Wawan…,” panggil seorang cewek dari kejauhan.

Semua mata menoleh pada sumber suara. Mas Wawan kaget dan menoleh kearahnya. Dia tersenyum setelah tahu siapa yang memanggil. Raut wajahku berubah drastis. Semula ceria mendengar tawa wisudawan keluar dari aula kini menjadi bisu dan ciut.

“Neha, ma siapa?” sapa Mas Wawan pada cewek itu

“Selamat yach abangku sayang, udah jadi sarjana,” senyum tulusnya teurai manja dihadapan kami semua.

Sejenak teman–teman tertegun mendengar percakapan Mas Wawan dengan Neha, nama yang disebutnya. Dia terlihat cantik dan berusaha menarik perhatian orang yang ku kagumi itu. Gadis itu yang pernah ada dihatinya. Namun sekarang mereka sudah tidak berhubungan lagi. Entah mengapa mereka dikabarkan putus. Tapi…

“Va… Kenapa kamu nglamun? Kamu jeoleus ya?,” teriak teman – teman

“Ihhh….. rese banget sich mereka, aku kan jadi malu,” batinku. Aku tak sadar saat Mas Wawan menoleh kearah kita.Dia melihat raut mukaku yang menyedihkan diantara teman–teman.

“Neha, aku ke anak–anak dulu yach, nanti aku telpon.”

Neha mengangguk dan tersenyum pada pujaan hatiku. Senyumnya membuatku ingin muntah. “Kenapa dulu Mas Wawan mau sama dia  yach,” pikirku

“Yeee… Sapa yang nglamun? Pada sirik yach yang gak punya pacar…Gak diperhatiin pacarnya ya… hahaha” tawaku garing.

Mereka menahan tawa melihat keluguanku. Padahal hanya aku yang belum punya pacar saat ini. Tapi dasar anak klub 16 tak pernah berhenti menggojloki ku bila menyangkut Mas Wawan.

“Hey… Dah lama nunggu yach…,” sapa Mas Wawan

“Gak kok mas. Tapi Eva nich yang nunggu kelamaan… Dari subuh dia yang jaga stan… hahaha,” gelak tawa Fajar mendorong lainnya memojokkanku.

Aku hanya tersenyum kecut mendengar ocehan mereka. Mas wawan tersenyum sambil menatapku. Aku tertunduk tersipu dibuatnya.

“Bunda, selamat yach. Kapan nih syukurannya?,” suaraku mengalihkan objek guyonan.

“iya dek. Besok, ya di office klub,” kata Mbak Erni yang selalu dipanggil bunda oleh teman–teman.

“Cuma Mbak Erni saja kah yang dikasih selamat?,” tiba–tiba Mas Wawan meledekku. Spontan semua teman menyoraki ku.

“Wah…. Eva gitu…. masa Mas Wawan gak diucapin selamat… hahaha.” Fajar pun tak kalah menggodaku

“hehehe Mas Wawan selamat yach,”kataku tersipu

cuit…cuit……”sorak mereka yang gak bisa berhenti menggodaku bila ada Mas Wawan. Dia  hanya tersenyum. Senyuman yang selalu membuatku semakin bimbang dan takut dengan perasaanku.

###

Sesampai di kos, aku tak bisa berhenti memikirkan Mas Wawan. Akhir tahun ini dia akan berangkat ke Bangkok melanjutkan study. Mungkin kita tidak akan bertemu lagi. Besok syukuran kelulusan Mas Wawan dan Mbak Erni. Pastinya akan membuatku sedih.

“Teman–teman, terima kasih atas dukungan dan doa kalian. Kemaren Mbak Erni dan saya telah diwisuda. Sudah saatnya kita pamit. Klub ini yang selalu memberi semangat dan membesarkan kita. Pesan kami, tetap semangat dan kompak. Tanpa kalian klub ini bukan apa – apa. Carilah keluarga kalian disini. Maka kalian akan menemukan arti kekeluargaan,” Tutur mas wawan

“Jangan pernah berharap apapun dari klub, tapi apa yang sudah kamu berikan untuk klub. Itu yang akan membuatmu tetap setia di klub,” pesan tambahan dari Mbak Erni

Anggota klub terlihat termenung. Antara gembira dan sedih. Senang dengan kelulusan senior klub dan sedih dengan perpisahan.

“Kita harap ini bukan perpisahan, namun masih ada pertemuan selanjutnya dan selanjutnya,” sahut ketua klub

Aku hanya tertunduk mendengarkan. Ingin menangis tapi tertahan.

“Eva, jangan nangis donk,” sorak teman – teman.

“Inilah klub yang gak bisa nangis disaat sedih pun,” jawabku dengan tersenyum jenaka

Gelak tawa keluar. Bagaimanapun situasinya, walaupun disaat detik – detik kebersamaan yang tersisa wajah keceriaan selalu tampak. Karena kita berkeyakinan bahwa ini bukanlah perpisahan.

###

Tut…tut…tut…. Mas Wawan menunggu telepon diseberang menjawab.

“Assalamu’alaikum bang…” salam dari seberang

“Wa’alaikumsalam, Neha…..akhir tahun ini aku akan melanjutkan study ku keluar negeri. Aku akan pergi ke Bangkok. Apa kamu mau menungguku kembali?”

“Bang, Neha gak bisa nunggu lama. Ayah Neha segera minta Neha menikah.”

“ Tapi gimana…?”

“Bang…..jujur Neha masih mencintai abang. Namun, ayah Neha sudah menjodohkan Neha dengan putra Kyai Bisri.”

“Jadi, perjodohan itu tetap terlaksana. Seandainya aku datang melamarmu kembali bagaimana?”

“Aku gak tahu bang. Oh ya bang, aku dengar ada adik juniormu di klub yang suka kamu yach.

“ Gak kok…..dia cuma dijodoh–jodohin denganku. Dia keponakan Pak Anan.”

“Tapi kelihatannya dia beneran suka ma abang. Aku pernah ketemu dia sekali saat aku diajak putri dan menantu Pak Anan di sebuah seminar. Dia pun ikut. Kelihatannya dia baik.”

“Sudahlah Neha. Kamu gak usah mengalihkan pembicaraan.”

“Maafin aku bang…..”

“Ya sudahlah kalau begitu, aku juga minta maaf. Mungkin kita belum berjodoh. Jangan lupa aku dikabari kapan kau akan menikah.”

“Iya bang.”

###

Sejak keberangkatan Mas Wawan ke Bangkok tak pernah terdengar lagi kabar beritanya. Aku sendiri pun sedikit melupakannya. Walau sesekali aku memandang foto terakhir bersamanya setelah wisuda.

“ Va…..”

“Hey Mbak Fit. Apa kabar?”

“Baik, cin. Kamu gimana? Lagi ngapain?”

“Beginilah mbak…. hehe menyelesaikan tugas office,” jawabku

“Oh ya mbak… selamat yach, cerpenmu masuk nominasi…”

Mbak Fitri tersenyum, "Thanks Va, itu semua juga berkat doamu. Kamu gimana?”

“Gak tahu mbak, mungkin ini yang terbaik. Tapi aku udah terbitin lewat blogku. Hehe Siapa tahu ada yang baca trus mau membeli cerpenku.”

“Kamu semangat yach….”

Aku mengangguk dan tersenyum. Ku matikan komputer setelah menyimpan file cerpenku yang ke sekian kali. Mbak Fitri sejenak melihat cerpenku,  namun tak banyak komentar.

“Oh ya, kemaren Wawan telpon, dia bilang kalau besok mau pulang dari Bangkok. Katanya liburan,”

“Oh ya mbak. Bagus lah…”

Dia bilang mau mampir ke klub, mau ngasih oleh–oleh.”

“Emm... temen-temen udah tahu apa belum yach. Mereka mendiamkan aku beberapa hari ini. Seperti menyembunyikan sesuatu ma aku.”

“Udahlah tenang gak usah dipikir, mungkin mereka sedang banyak kegiatan atau tugas.”

“ Mungkin,” jawabku pasrah

###

Langkah gontai menuju office klub. Sudah 4 hari tak tampak pengurus dan anggota dalam setiap meeting. Aku menghembuskan nafas pelan. Smsku pun tak ada yang membalas. Summercamp mendekati hari H. Namun belum ada persiapan pasti.

Di ruangan berukuran 4 X 3 meter ini pun tampak sepi. Adin yang biasa tidur dan menjaga office pun ikut menghilang. Padahal aku sedang membutuhkannya. Ku nyalakan CPU, meneruskan cerita ku kemaren yang sempat terhenti ketika Mbak Fitri datang ke office.

“It's so unbelievable, And I don't want to let it go,” lagu unbelievable dari hapeku berbunyi. Sebuah pesan.

“Mas Wawan?” kataku pada diri sendiri.

“Eva, kmu dmna? bisa datang ke dpn perpustakaan skrg?,”

Hatiku sumringah senang tak karuan. “Mas Wawan sudah datang. Tapi gimana dengan teman–teman? masak aku yang harus menemui sendirian? Tanyaku kebingungan

“aq dioffice mas, iya sebentar lagi aku kesana.” Ku balas pesan Mas Wawan agar tak menunggu lama. Segera ku matikan computer yang tidak jadi aku pakai untuk melanjutkan cerpenku.

Sesampai depan perpustakaan, kaget bukan kepalang. Mas Wawan tidak ada. Suasananya pun sepi. Tak tampak seorangpun di siang yang mulai teduh ini. Hanya 2 – 3 mahasiswa berjalan menuju masjid dan ada juga yang pergi ke kantin. Tapi dimana orang yang ku cari.

Aku terduduk lemas di teras pepustakaan yang sepi ditinggal mahasiswa dan petugasnya. Ku tengok arah gedung H, hanya beberapa mahasiswa yang tak ku kenal terlihat beriringan pulang. Dari arah timur pun tak tampak seorang pun.

Hampir putus asa dan memutuskan kembali ke office, namun tertahan ketika ku mendongak kedepan.

“ Surprise…” teriak teman–teman klub 16 mengagetkanku

Aku menganga seperti tak tersadar kalau mereka membuatkan sebuah kejutan di hari ultahku.

“Surprise untuk apa? Ultahku kan sudah dari bulan lalu.”

Mereka malah tersenyum mendengar penjelasanku. Dari balik gerombolan sixteens klub, Mas Wawan muncul sambil tersenyum.

“Ini memang tidak merayakan ultahmu, tapi syukurannya Mas Wawan," sahut Eka

"Dasar… tapi kenapa malah aku yang didiemin?” jawabku agak sebal

“Sengaja Va, kemarin ultahmu kan masih pada liburan. Lha nie ultahnya Mas Wawan mau merayakannya ma kamu. Maka dari itu kita ngerjain kamu. Hehe,” ujar Ardan

“Kalau ndiemin Mas Wawan juga kejauhan. Kamu dech yang kena. Maaf yach…” Mbak Anis pun ikut–ikutan.

Ihhh… Sebel rasanya. Tapi melihat Mas Wawan terus tersenyum aku pun tak bisa marah. Senyum pun mengembang.

“Nah gitu donk, cinayuw kita mulai syukurannya. Adin dan Azka sedang ambil rujaknya.” Erva menyambut tak sabar.

Mbak Fitri pun ternyata ikut dalam rencana ini. Kemaren dia datang ke office hanya memastikan bahwa aku sudah mulai kesal dengan ulah mereka. Mas Wawan sudah pulang seminggu yang lalu. Dia yang merencanakan ini semua.

Maafin aku yach Va, selama ini membuatmu kesepian dan merasakan perih sikapku,” kata Mas Wawan padaku disela makan rujak

Gak kok mas, aku gak kenapa–napa.”

Kamu gak perlu bohong. Aku tahu ini semua dari Fitri. Dia memberiku sebuah cerpen sebelum aku berangkat ke Bangkok. Katanya itu kisahmu. Dan aku menyadarinya setelah membacanya. Fitri pun menyuruhku membuka blogmu yang selama ini berisi pesanmu untukku.”

Penjelasan Mas Wawan tak mampu ku jawab. Mbak Fitri sudah menjelaskan secara detail. Aku hanya tertunduk dan diam. Rujak ini begitu manis walau teman–teman merasakan pedas. Dan tak kan ada kesepian lagi dihari esok. Senyumnya yang tulus menemaniku walau dia jauh disana.

 

Juita Intifada,  Guru  di RA Al Falah Margorejo Pati

 

 

 

 

 

 

Posting Komentar untuk "Cerita Aku dan Kau"