Bahtsu Masail tentang Imamah (kepemimpinan) dalam Perspektif Fiqh

Bahtsu Masail tentang Imamah (kepemimpinan) dalam Perspektif Fiqh

Admin
Jumat, 07 Juli 2017


Pati. Jajaran Pengurus Wakil Cabang Nahdlatul Ulama Trangkil Pati mengadakan bahtsul masail putaran ke 51 mengkaji tentang  kepemimpinan dalam perspektif  fiqh, 18/5 kemarin.
Acara berlangsung di PP Riyadlus Shalihin Trangkil Bandung Bahtsu masail ini dipimpin oleh KH Badruddin Syathibi selaku Rais Syuriyah MWCNU Trangkil. Dr Zumradi, K Said, K Sabar, K Hambali, dan kiai kiai yg lain mendiskusikan secara serius konsep imamah dalam fiqh dengan mengutip pendapat dari Al Mawardi dalam ahkam sulthaniyah, dan dari kitab kitab fiqh lainnya, seperti al fiqhu al islami karya Dr Wahbah Zuhaili, Syarwani, dan lain lain.
Dalam bahsu masa’ail tersebut memperoleh beberapa keputusan antara lain, Pertama, imamah adalah posisi krusial untuk meneruskan fungsi kenabian dlm rangka menjaga agama dan dunia sekaligus. Kedua, tugas seorang pemimpin adalah menjaga kedaulatan bangsa, memberikan rasa aman, dan menggerakkan seluruh potensi untuk kemajuan bangsa. Ketiga, kriteria seorang pemimpin adalah sosok muslim yang adil dan amanah sehingga mampu melaksanakan tugas dengan baik.
Keempat, jika tidak terdapat sosok ideal, maka pertimbangannya adalah kemaslahatan. Misalnya, jika tidak ada pemimpin muslim yang adil, maka boleh mengangkat pemimpin non muslim tapi adil. Kelima, suksesi kepemimpinan dilakukan dgn penunjukan pemimpin sebelumnya (dalam sistem teokrasi, kerajaan), dipilih oleh ahlul halli wal aqdi (kelompok orang pilihan), dan dipilih oleh mayoritas umat sehingga mempunyai kekuatan (dzu syaukah).
Keenam, boleh mencopot pemimpin yg dhalim jika tidak menimbulkan kegaduhan (fitnah). Jika menimbulkan kegaduhan, maka harus sabar sampai suksesi tiba.
Tujuh, tidak boleh ada dualisme kepemimpinan dalm satu negara karena menimbulkan instabilitas politik.
            “Keenam kesimpulan tersebut kami putuskan berdasarkan musawarah dengan para kiai-kiai se kecamatan Trangkil, dan hasil tersebut mengambil rujukan dari kitab kuning  baik melalui ijma’ qiyas dan sebagainya,” ujar KH. Badrudin selaku Rois Syuriyah MWCNU Trangkil