MA BANIN; MADRASAH PLUS LIFE SKILL Dari Kitab Kuning Sampai Membatik

MA BANIN; MADRASAH PLUS LIFE SKILL Dari Kitab Kuning Sampai Membatik

Admin
Jumat, 20 November 2015


Mentari di pagi itu begitu indah menampakkan wajahnya, mengiring kayuhan sepeda onthel yang sesekali menjerit-jerit karena usianya yang lapuk. Ya, pagi-pagi betul anak-anak harus sudah sampai di halaman Madrasah Tarbiyatul Banin. Tepat pukul 06.30 lantunan murotal ayat-ayat Alqur’anul Karim terdengar sayup-sayup dibacakan oleh siswa-siswi yang hari itu mendapat giliran mengiring mereka memasuki pintu gerbang madrasah. Begitu nyaman dan menyejukkan hati.
Dengan sedikit berlari kecil menuju ruang kelasnya, siswa-siswi bergegas menaggalkan tas gendongnya menuju halaman madrasah, disana Ustadz-ustadzah sudah berbaris rapi mendampingi mereka. “Allohumma Sholli ‘Ala Muhammad!!! Terdengar suara ketua IPNU mengawali nadhoman Asma’ul Husna dan wirid sholawat. Sebagian siswa yang datang terlambat terpaksa harus berdiri di depan pintu gerbang yang telah tertutup rapat, menunggu sampai selesainya lantunan penyejuk qalbu pagi.
Inilah salah satu menu sarapan pagi warisan para ulama dan kyai sesepuh pendiri madrasah sebagai upaya internalisasi nilai-nilai karakter dan kepribadian yang ditanamkan kepada seluruh civitas academika Madrasah Tarbiyatul Banin setiap pagi mulai dari unit pendidikan PAUD, Raudlatul Athfal, Madrasah Ibtidaiyah, Madrasah Tsanawiyah, dan Madrasah Aliyah.
Ada sekitar seribu siswa lebih setiap harinya lalu lalang memadati jalan gang Masjid Jami’ Darussalam Desa Pekalongan Kec. Winong Kab. Pati. Masyarakat lebih sering menyebutnya dengan “gang Banin” karena di sepanjang jalan gang tersebut berdiri lembaga pendidikan Islam Tarbiyatul Banin, mulai dari PAUD-RA, MI, MTs, dan MA secara terpisah.
Sebagai madrasah tertua di wilayah Kecamatan Winong, wajar jika madrasah Tarbiyatul Banin banyak dikenal masyarakat karena alumninya telah menyebar di berbagai desa dan banyak yang menjadi tokoh panutan masyarakat. Selain itu letaknya yang juga sangat strategis, yakni berada di desa yang menjadi pusat lembaga pendidikan negeri dan swasta baik di bawah naungan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan maupun Kementerian Agama.
Ditutup oleh Belanda, dibuka kembali oleh Jepang
Sejak berdirinya Jam’iyah Nahdlatul Ulama’ pada tanggal 31 Januari 1926 di Surabaya yang antara lain didirikan oleh Kyai Abd. Wahab Hasbullah dan Kyai Hasyim Asy’ari - Jombang, pengaruh perkembangan pondok pesantren tersebar luas ke seluruh nusantara.

Perkembangan pondok pesantren di wilayah Kabupaten Pati yang lebih pesat adalah di Desa Kajen Kec. Margoyoso, karena pengaruh dari Kyai H. Ahmad Mutamakkin (waliyullah) dan dikembangkan oleh generasi penerus beliau yang antara lain adalah : KH. Abdus Salam, diteruskan putranya bernama KH. Mahfudh Salam, KH. Abdullah Salam, dengan sahabatnya KH. Munji, KH. Nawawi, dan KH. Anwar. Pondok pesantren didirikan dengan nama Maslakul Huda dan Matholi’ul Huda lalu dikembangkan dengan pendidikan formal dengan Madrasah Matholi’ul Falah di desa Kajen, Kec. Margoyoso, di bawah Yayasan Nurussalam sampai sekarang diteruskan Oleh KH. Abdullah Salam (adik KH. Mahfudh Salam) dan KH. Dr. MA. Sahal Mahfudh (putra KH. Mahfudh Salam).
Di desa Pekalongan Kec. Winong, terdapat kyai atau seorang ulama’ yang pernah belajar bersama dengan Kyai Abd. Wahab Hasbbullah di Mekkah (mukim haji selama 7 tahun) beliau adalah Kyai H. Ismail Bin Zaenal Abidin. Bersama saudara-saudaranya, beliau mendirikan langgar pondok sederhana untuk mengaji secara privat mendalami Syariat Islam.
Pada tahun 1930 KH. Anwar beserta rombongan sebagai misi perkembangan pondok dan madrasah bersilaturrahim ke rumah KH. Ismail bin Zainal Abidin di desa Pekalongan Kec. Winong yang masih kosong belum ada madrasah dan masjidnya. Mereka melihat perlunya segera didirikan sebuah lembaga pendidikan dengan system madrasah seperti yang sudah ada di Kajen. Kemudian KH. Mahfudh Salam membidani kelahiran madrasah di desa Pekalongan dengan nama Far’iyah Matholi’ul Falah. Guru-gurunya dikirim dari Kajen antar lain KH. Sanadji, KH. Fahrur Rozi dan guru bantu lainnya. Sedangkan KH. Mahfudh Salam sebagai mufatis karena ilmu agamanya beliau dikenal pada saat itu sebagai presiden agama (sumber sesepuh desa Pekalongan).
Sejak saat itu perjalanan madrasah Matholi’ul Falah di desa Pekalongan berjalan lancar mulai dengan pendidikan sipir awal, stani dan sipir stalis baru ke jenjang kelas 1, 2, dan 3. Tenaga guru dari Kajen bertempat transit di rumah KH. Ismail dengan honorarium dan seluruh kebutuhan logostik ditanggung oleh beliau. Kader guru lokal yang pertama kali diangkat oleh KH. Ismail (pengurus) adalah KH. Jauhar bin H. Umar dan lalu KH. Siraj bin H. Shidiq (tahun 1939). Selanjutnya ditambah dengan K. Abu Thoyib bin H. Umar (menantu KH. Ismail), K. Ah. Fadlil dan K. Asyhuri Ridwan. Karena sudah cukup di anggap mampu untuk berdikari maka Kepala Madrasah diserahkan kepada K. Jauhar bin H. Umar.
Pergerakan KH. Mahfudh Salam meluas ke beberapa daerah sampai Jepara dan Rembang, maka pemerintahan Belanda memandang hal itu sangat berbahaya dan memandang perlu untuk diberantas. Dengan berbagai macam upaya Belanda maka KH. Mahfudh Salam menjadi syahid ditembak Belanda. Dengan peristiwa tersebut Belanda dengan mudah menutup semua kegiatan agama termasuk madrasah-madrasah di bawah asuhannya, antara lain di desa Pekalongan, Malangan (Karangrejo Pucakwangi) dan desa Sumberrejo Kec. Jaken.
Pada saat itulah madrasah ditutup oleh Belanda lebih-lebih karena madrasah ini berada di bawah pengawasan KH. Mahfudh Salam Kajen yang sangat ketat gerakannya diawasi oleh Belanda.
Pada tahun 1943 K. Jauhar bin H. Umar memberanikan diri untuk menghadap Sche Cho Kang (Bupati Jepang untuk wilayah Pati) dan Sche Cho Kang kakak (wilayah Rembang) minta agar madrasah Matholi’ul Falah di desa Pekalongan Winong Pati yang telah ditutup kegiatannnya dapat dibuka kembali dengan berbagai alasan.  Akhirnya dapat diijinkan untuk dibuka kembali dengan syarat-syarat :
1.    Harus tunduk pada pemerintah Nippon (Jepang)
2.    Sanggup mengikuti upacara Jepang
3.    Tidak boleh bergerak di bidang politik
4.    Bersedia memakai seragam militer Nipppon
5.    Melepaskan diri dari ikatan Kyai Kajen.
Dengan berjalan kaki dari Pati ke Pekalongan, K. Jauhar mengabarkan hal tersebut kepada KH. Ismail. Setelah bermusyawarah dengan para tokoh lainnya, dengan pertimbangan demi kelangsungan pendidikan madrasah maka syarat-syarat itu diterima dan perjanjian pun ditandatangani. Madrasah diijinkan untuk dibuka kembali.
K. Jauhar diserahi dan diangkat Nippon menjadi Sumu Thihao Sche Dong (penerangan Agama Islam untuk distrik atau kawedanan Jakenan) dan madrasah-madrasah lainnya pun disarankan di buka.
Mulai saat itu madrasah Matholi’ul Falah Pekalongan dirubah namanya menjadi Madrasah TARBIYATUL BANIN yang dapat diartikan pendidikan untuk anak-anak yang belum mengenal politik. Perjalanan madrasah pada jaman pemerintahan Nippon tidak ada hambatan yang berarti, karena dapat mengatur sikap sesuai kondisi pada saat itu.
Meskipun secara struktural Madrasah Tarbiyatul Banin sudah tidak berhubungan lagi dengan Mathali’ul Falah di Kajen, namun secara kultural hubungan itu tak akan pernah bisa diputuskan begitu saja. Disamping itu pemerintah Jepang tidak lagi mempedulikan hal tersebut.
Selanjutnya pada tahun 1997 Pengurus Madrasah Tarbiyatul Banin mengubah diri menjadi sebuah Yayasan dengan nama Yayasan Perguruan Agama Islam Tarbiyatul Banin yang didaftarkan dalam Akta Notaris Sdr. Sugianto, SH Pati Nomor : 11 Tahun 1997 tanggal 6 Juni 1997 dan telah terdaftar pada Kepaniteraan Pengadilan Negeri Pati Nomor 18/1997/A.N/K/Y tanggal 21 Juni 1997, dengan nama Yayasan Tarbiyatul Banin.
Dalam perkembangannya Yayasan Tarbiyatul Banin sampai saat ini telah mengelola beberapa unit pendidikan da usaha antara lain; unit Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), unit pendidikan Raudlotul Athfal, unit pendidikan Madrasah Ibtidaiyah, unit pendidikan Madrasah Tsanawiyah, unit pendidikan Madrasah Aliyah, unit pendidikan Pondok Pesantren dan Koperasi Pondok Pesantren, serta unit Lembaga Pelatihan Kerja Swasta.
LPKS; Menjawab Kebutuhan Dunia Kerja
Untuk mengimplementasikan visi dan missi pendidikan di madrasah Tarbiyatul Banin tersebut, maka siswa tidak hanya dituntut memiliki kecakapan dalam penguasaan ilmu-ilmu agama Islam klasik (kitab kuning) dan ilmu pengetahuan umum, namun juga dibekali dengan berbagai kecakapan hidup (lifeskill) dan berbagai ketrampilan. Di Madrasah ini, siswa-siswi juga dimanjakan dengan berbagai kecakapan dan keterampilan yang dikembangkan memalui kegiatan ektrakurikuler, antara lain Banin Sport Club,  Banin Arabic and English Club, Jurnalistik (Buletin, Mading, dan Majalah), Jam’iyatul Qurra wa sholawat, Seni Beladiri Pencak Silat, dan lain-lain.
Tujuannya adalah untuk membekali peserta didik yang setelah lulus dari Madrasah Aliyah Tarbiyatul Banin memiliki kecakapan hidup yang dibutuhkan oleh masyarakat luas dan dunia kerja. Disamping itu juga sebagai media penggalian dan pengembangan minat bakat siswa.
Sejak tahun 2012 MA Banin telah bekerjasama dengan Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disosnakertrans) Kabupaten Pati dengan mendirikan Lembaga Kursus dan Pelatihan Kerja Swasta (LPKS) yang bergerak di bidang peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia tenaga kerja yang siap pakai untuk bekerja dan berwirausaha secara mandiri. Semua siswa lulusan LPKS ini akan memperoleh sertifikat resmi dari Disosnakertrans, penempatan magang serta memperoleh berbagai macam info kerja (Job Fair).
Berdirinya Lembaga Kursus dan Pelatihan Kerja di madrasah ini menjadi jawaban bagi para siswa, orang tua, dan masyarakat pada umumnya yang memandang bahwa lulusan madrasah tidak banyak bisa bicara apa-apa ketika dihadapkan pada kebutuhan dunia kerja. LPKS ini juga menjadi solusi bagi masyarakat yang menginginkan anaknya memiliki kecakapan dan ketrampilan khusus sebagaimana yang dimiliki oleh Sekolah Menengah Kejuruan. Di Madrasah Aliyah Tarbiyatul Banin sampai saat ini baru membuka 3 program studi pilihan yaitu bahasa, IPA, dan IPS sebagaimana madrasah aliyah lainnya.
“Banyak siswa yang semula berkeinginan masuk ke Sekolah Menengah Kejuruan, kemudian mengalihkan pilihannya ke madrasah aliyah setelah mengetahui bahwa di MA Tarbiyatul Banin ini ternyata tidak hanya digembleng ilmu-ilmu keIslaman, ngaji kitab, pembinaan akhlaqul karimah, tetapi juga diberikan berbagai macam pengetahuan dan praktek ketrampilan yang dibutuhkan oleh dunia kerja” ungkap Drs. H. Ah. Adib Al Arif, M.Ag selaku Kepala Madrasah.
Setelah terbitnya ijin operasional resmi dari Dinas Sosial dan tenaga Kerja Kabupaten Pati, maka LPKS “An Najah Tarbiyatul Banin” membuka 3 jenis program vokasional yaitu :
1.      Komputer; paket microsoft office dan Design Grafis
2.      Otomotif sepeda motor; sistem engine, sistem bahan bakar, sistem pelumasan, sistem kelistrikan, dan pemeliharaan atau service.
3.      Menjahit; mengukur tubuh, menggambar pola, memotong bahan, dan menjahit.
Pada awal berdirinya, program vokasional ini tidak begitu diminati karena tidak menjadi program studi wajib di madrasah. Namun berkat kerja keras pengelola, Bp. Shodiq Annur, S.Pd yang juga guru Bahasa Inggris di MA Tarbiyatul Banin dan para instruktur, akhirnya LPKS Tarbiyatul Banin kini  menjadi program idola bagi siswa-siswi yang menginginkan ketrampilan tambahan sebagai bekal ketika lulus dari madrasah. Khususnya siswa-siswi yang setelah lulus ingin langsung bekerja di perusahaan-perusahaan bonafit atau secara mandiri membuka usaha di rumah karena sebagian besar siswa MA Banin adalah berasal dari keluarga ekonomi menengah ke bawah.
Program vokasional yang dikembangkan oleh  LPKS Tarbiyatul Banin ini ternyata mendapat respon serius dari pemerintah daerah melalui Dinas Sosial dan Tenaga Kerja serta dari Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten dan provinsi dalam bentuk kerjasama, baik dalam penyediaan Instruktur pelatihan menjahit, otommotif, dan komputer juga kesempatan untuk menyelenggarakan berbagai macam pelatihan kerja dengan Balai Latihan Kerja Daerah seperti pelatihan sablon manual, magang industri garmen, job fair, dan lain sebagainya.
Hasil dari pelatihan di LPKS sudah mulai diakui oleh  pemerintah, antara lain melalui kerja sama dengan perusahaan Garmen dan Disperindag Provinsi Jawa Tengah dengan mengirimkan 55 orang peserta didiknya untuk mengikuti pelatihan kerja selama 20 hari di Semarang, dan selesainya pelatihan langsung ditempatkan di perusahaan-perusahaan garmen dalam dan luar negeri.
Melihat respon positif dari siswa dan pemerintah terhadap keberadaan LPKS di Madrasah Aliyah  Tarbiyatul Banin ini, maka mulai Tahun Pelajaran 2015-2016 pengelola LPKs membuka program kursus dan pelatihan untuk masyarakat umum yang pesertanya tidak hanya  dari siswa-siswi MA Banin tetapi juga para alumni dan masyarakat sekitar yang menginginkan ketrampilan kerja dengan sertifikat resmi.

Banin Batik; berawal dari Pra Karya kini jadi Icon Madrasah
Sejak diberlakukannya kurikulum 2013 oleh pemerintah, maka seluruh sekolah dan madrasah wajib memasukan beberapa  mata pelajaran baru dalam kurikulum satuan pendidikan. Salah satunya adalah pelajaran Pra Karya dan kewirausahaan.
Sebagian besar sekolah dan madrasah mengisi kurikulum pra karya dan kewirausahaan dengan mata pelajaran Teknologi Informasi dan Komunikasi, yang dalam kurikulum 2013 tidak lagi masuk sebagai mata pelajaran wajib. Namun di MA Tarbiyatul Banin mata pelajaran Pra Karya dan Kewirausahaan diisi dengan ketrampilan membatik,  dengan alasan bahwa muatan kurikulum mata pelajaran ini juga mengarah pada ketrampilan berwirausaha, disamping itu juga secara kebetulan guru pengampu mata pelajaran Pra Karya dan Kewirausahaan untuk Kelas X ini memiliki kompetensi membatik dan di rumahnya sudah membuka usaha batik tulis.
Di luar dugaan, ternyata respon dari peserta didik terhadap pelajaran membatik cukup baik. Mereka sangat antusias mengikuti pelajaran pra karya ini, siswa-siswi dengan semangat tinggi tidak hanya di praktik membatik di  pagi hari, tetapi sepulang sekolahpun mereka masih tekun berada ruang ketrampilan untuk menyelesaikan tahapan-tahapan membatik yang cukup rumit dan membutuhkan kesabaran tinggi.
Ada sembilan tahapan yang harus dilalui dalam proses membatik, yaitu : (1). Menyiapkan pola gambar batik sesuai selera, (2) kain katun dengan ukuran yang dikehendaki direndam dengan penghilang lapisan lilin selama satu malam kemudian dibilas sampai bersih dan dijemur sampai kering, (3) pola yang sudah disiapkan diblat (dijiplak) di kain dengan pensil 2b, (4) kain dicanting menggunakan kuas atau alat canting listrik (5) selesai mencanting kain di colet dengan pewarna yang dikehendaki atau dicelup dengan warna, (6) Ngeblok, yaitu proses menutupi warna yang dicolet atau warna yang ingin dipertahankan dengan bahan malam, (7) selesai ngeblok kain diberi warna dasar sesuai selera, (8) mengunci warna dasar menggunakan teknik khusus, (9) Nglorod, yaitu proses menghilangkan lapisan lilin dengan cara direbus, kemudian dikeringkan.
“Lamanya waktu proses membatik ini bermacam-macam mulai dari satu minggu sampai ada yang satu bulan, tergantung pola gambar dan tingkat kerumitan pewarnaan. Inilah yang menjadikan harga batik tulis asli mahal pak.." ”utur Ibu Tri Widayati, S.TP, guru pembimbing pra karya membatik di MA Tarbiyatul Banin.
Dari ketrampilan membatik ini, siswa-siswi secara berkelompok sudah mampu menghasilkan produk kain batik sendiri, mereka modal sendiri membeli kain dan bahan-bahan membatik lainnya, sedangkan peralatan membatik dibelikan oleh madrasah. Walhasil, produk yang dihasilkan mendapat apresiasi yang cukup bagus dari bapak ibu guru lainnya sehingga seragam batik untuk bapak dan ibu guru pun akhhirnya dipesankan kepada mereka.
“Kami sangat bangga dan tertantang untuk menghasilkan produk batik tulis yang lebih banyak lagi semenjak produk batik tulis kami dipakai untuk seragam bapak dan ibu guru” ujar Masruri salah satu siswa asuhan Gerakan Orang Tua Asuh MA Banin. meskipun belum ada setahun, tapi siswa-siswi telah menghasilkan berbagai motif batik tulis antara lain motif mawar sebar, parang garuda, suroh, dan lainnya. Tema motif kebanyakan diambil dari lingkungan dan budaya lokal kabupaten Pati.
Seperti halnya Masruri, keterampilan membatik juga diberikan kepada siswa-siswi yang tergabung dalam Gerakan Orang Tua Asuh (GOTA). Sampai saat ini jumlah siswa asuh yang tertampung dalam GOTA ada 26 siswa, dari siswa madrasah Aliyah dan madrasah Tsanawiyah Tarbiyatul Banin. Meskipun jumlah siswa kurang mampu di madrasah ini lebih dari itu, namun kemampuan anggaran yang dimiliki GOTA masih sangat terbatas, sehingga terpaksa quota yang diberikan juga terbatas.
Gerakan orang tua asuh ini diprakarsai oleh bapak ibu guru madrasah Aliyah Tarbiyatul Banin yang dengan ikhlas menyisihkan sebagian dari bisyaroh atau honorariumnya untuk membantu siswa-siswi dari keluarga kurang mampu (yatama dan dhu’afa).
Jenis bantuan yang diberikan oleh GOTA kepada siswa asuh berupa bantuan untuk biaya bulanan pendidikan dan iuran-iuran lainnya. Bila dilihat dari nominal bantuan memang masih terhitung kecil akan tetapi gerakan ini harus diapresiasi sebagai wujud kepedulian masyarakat terhadap dunia pendidikan.