Bahtsul Masail di ITB Meriah

Bahtsul Masail di ITB Meriah

Admin
Jumat, 13 November 2015


Bahtsul Masail yang menjadi ajang diskusi Nahdliyin seakan benar benar sudah membumi, betapa tidak, anak  sekolah pun sudah malakukannya. Paling tidak setiap tahun tak pernah sepi dari acara tersebut. Ada yang di programkan secara resmi di Osis-nya ada yang di barengkan dengan haul atau acara lainnya.
            Dari sedikit madrsah yang melaksanakan program bahtsul masail adalah Madrasah ITB (Ianatut Thalibin) Cebolek Kidul Margoyoso Pati yang bekerja sama dengan LBM NU Kab. Pati (Lembaga Bahtsul Masail NU). Madrasah ITB sebagai salah satu madrasah tertua di Kec. Margoyoso sudah sejak lama melaksanakan bahtsul Masail sebagai salah satu program HPI (OSIS).
            Tidak Hanya putra saja yang melaksanakannya, namun putri juga menjalankannya. Melainkan dengan waktu yang berbeda. Bahtsu ITB minggu lalu diikuti oleh berbagai sekolah dan pesantren di Kecamatan Margoyoso dan sekitarnya yang merupakan kecamatan paling banyak pesantrennya di kabupaten Pati.
            Kendati tidak sehebat para kyai yang sudah ahli, mereka sangat antusias berdiskusi dengan sesekali di selingi guyon ketika ada salah satu peserta kelabaan dan terkesan tidak tenang. Suasana bertambah panas ketika membahas masalah ta’zir (hukuman) yang di jatuhkan dengan denda uang atau barang lain yang dianggap bermanfaat. Karena sebagian sekolah ataupun pesantren menerapkan ta’zir seperti itu, sementara sebagian peserta tidak memperbolehkan.
Akhirnya para peserta menyetujui keputusan Dewan Mushohhih yang mengatakan bahwa denda dengan uang atau barang itu tidak diperbolehkan, kecuali sebagian ulama’ Hanafiyah yang memperbolehkan dengan syarat barang atau uang itu dikembalikan ketika si pelaku sudah jera, kata Liwa Uddin selaku salah satu Dewan Mushohhih sekaligus sebagai ketua LBM NU Kab. Pati.
            Acara seperti ini sebaiknya juga dilaksanakan di madrasah-madrasah lain terutama yang bernaung di bawah yayasan yang juga membawahi pesantren supaya para peserta didik terbiasa diskusi agama dengan tertib dan tidak ngawur, sehingga terciptalah generasi generasi tangguh yang tidak mudah terombang ambing oleh situasi dan keadaan yang akan terus berubah, imbuh Liwa’. (ni)