Sang Syaikh Sufi YANG SELALU BERSEMBUNYI Kisah-Kisah di sekitar kehidupan KH.Abdullah Salam

Sang Syaikh Sufi YANG SELALU BERSEMBUNYI Kisah-Kisah di sekitar kehidupan KH.Abdullah Salam

Admin
Selasa, 27 Oktober 2015


SEKITAR PRINSIP DAN SIKAP
Istiqomah
             Mbah Dullah di kenal dengan sikap istiqomahnya. Apalagi ibadah wajib, untuk ibadah sunahpun ,kalau sudah beliau pilih untuk di kerjakan mak akan beliau kerjakan secara istqomah. Ada saatnya ketika remaja beliau tak ragu memaksa diri tidur di tangga pintu rumah KH.Nawawi. Maksudnya agar ia bisa bangun diri di buka oleh KH.Nawawi  saat hendak berangkat sholat subuh.
Tampaknya tak ada yang memutus istiqomah ini kecuali sakit yang sangat berat.Sebagai  contoh : sejak 1998, ketika beliau mulai sakit dan tak bisa mengimami sholat berjamaah, beliau tetap berusaha untuk tidak meninggalkan kebiasaannya sholat berjamaah; meski harus tertatih-tertatih ke Musholla,bahkan pernah harus memakai kursi roda dan menjadi makmum sambil duduk .
Menurut sumber yang dekat dengan beliau, sikap istiqomah ini adalah hasil perjuangan yang terus menerus sejak beliau masih mondok di Madura. Sejak di madura itulah misalnya beliau mulai berusaha mendawamkan puasa Dawud. Ibadah yang selalu beliau lakukan hampir sepanjang hidup. Memang untuk ibadah sunnah yang beliau akan memperlakukannya, seolah-olah ibadah wajib, tak heran tiap kali bisa melakukannya, maka beliau akan segera menqodlonya di kesempatan selanjutnya.
       Beliau sangat sedikit tidur di waktu malam. Kecuali menjalankan ibadah sunnah hampir setiap malam beliau mempelajari kitab sampai bejam-jam. Bahkan usianya yang senja, beliau aktif membeli kitab-kitab baru untuk beliau pelajari. Tak heran kalau beliau kaya khazanah pemikran Islam, sekaligus bersikap terbuka dan toleran terhadap gagasan yang baru segar.Wawasan yang luas dan dalam ini pun tampaknya berusaha beliau sembunyikan dalam pergaulannya sehari-hari.
Banyak pertanyaan yang lebih suka beliau jawab’’saya tidak tahu ! ‘’tapi, bagi orang yang teliti sering mengikuti pengajian beliau,baik malam selasa maupun selasa sore di Masjid Kajen atau dua jum’at sekali di desa Tunjugrejo dan pembahasannya tentang Syarah al-Hikam tiap kamis di musholla pondoknya akan segera merasakan keluasan dan kedalaman wawasan beliau tersebut.
Seringkali, beliau hanya membaca satu baris dar kitab dan menjabarkannya dengan bening selama satu jam atau bahkan lebih .Bahkan di tangan beliau tema-tema yang pelik dan abstrak sekitar tauhid misalnya, bisa dipaparkan dengan enteng dan mudah di cerna.Tentang hal ini KH.MA.Sahal Mahfudz sendiri mengakui penguasaan KH.Abdullah Salam terhadap khasanah tasawuf dan fiqih .’’Beliau itu satu satunya panutan setelah ulama Kajen banyak meninggal, sebab penguasaan tasawuf dan fiqihnya sangat memadaidemikian komentarnya.’’
Tawakal
      Mbah Dullah dikenal Tawakalnya.Saat masih muda ,rumahnya sering dimasuki  maling.Nah,saat itu ada seorang kiai yang menganjurkan beliau untuk ‘’memagari’’yang di maksud oleh kiai tersebut tentu saja berarti memberi ‘’pagar gaib’’berupa bacaan atau barang tertentu: tapi beliau malah menjawab ‘’sudah kiai’’,sudah ada pagarnya ,tapi tetap saja malingnya masih bsa menerobos masuk !’’tentu saja yang di maksud disini  adalah pagar rumah betulan yang terbuat dari bambu.Bukan hanya beliiau yang di maksud oleh kiai tersebut,tapi sejak awal  beliau lebih berpegang pada keyakinan bahwa apa yang sudah ditentukan oleh allah tak akan bisa diubah manusia. Beliau khawatir,’’pagar seperti yang di maksud kiai tersebut justru akan menodai kepercayaan mutlaknya akan penjagaan Allah.
        Pernah juga, awal-awal beliau memegang Madrasah Mathali’ul Falah, ada pihak yang jahil membuang kotoran manusia di bangku atas meja madrasah. Ini berlangsung tiap pagi dan dalam waktu cukup lama. Beliau cuma diam dan tidak menampakkan reaksi apa-apa.Melihat beliau tenag-tenang saja dengan ‘teror’ semacam ini,pihak terorispun merasa perlu meningkatkan kadar ‘teror’nya ;  pertama  jumlah kotoran manusia yang di buang lebih banyak : tapi tindakan juga tidak memancing reaksi beliau.Kedua ,kotoran yang semula Cuma ditaruh di meja murid.Kini di tingkatkan :bangku atau meja guru mulai menjadi salah satu sasarannya.Tapi ini juga tidak memancing  reaksi apa-apa dari beliau,beliau tetap ‘rajin’membersihkan kotoran-kotoran ini sambil teru-menerus tutup mulut meski para para santri mulai menampakkan keresahan.
        Melihat terornya tak mendapat reaksi seperti  yang di harapkan,tampaknya membuat sang teroris semakin kalap dan mulai bertindak ‘gila’:’’membuang kotoran manusia kedalam sumur santri.Sumur yang di gunakan banyak keperluan santri tersebut tentu saja tercemar’’nah, kali ini santri tidak cuma resah tapi sekaligus mulai menampakkan marah.Melihat gelegat yang kurang menguntungkan kali ini ,barulah beliau bereaksi ,Reaksi beliau pun bukan dengan menyelidiki dan mencari pelakunya,melainkan sekedar ajakan pada para santrinya untuk berdo’a bersama : memohon kepada allah agar membuka hati dan menghentikan tindakan pelakunya. Setelah peristiwa tersebut ,esoknya teror memang berhenti  dan pelakunya tak pernah d ketahui sampai sekarang.
        Ada juga kisah lain tentang sikap beliau ini,konon ketika terjadi kerusuhan sosial yang menyertai peristiwa G 30 SPKI Pada tahun 1965-1966 ada isu kerusuhan sosial yang berhmbus bahwa pki akan menyerbu desa kajen.Melihat eskalasi ketegangan sosialyang terjadi waktu itu, tentu saja mendorong banyak pihak di  Kajen untuk gelisah dan cenderung panik. Tak mengherankan kemudian banyak kiai yang mngungsi. Melihat keadaan ini, KH.Abdullah Salam tetap tenang saja,beliau tetap tinggal di rumah dan melakukan segenap aktifitas kesehariannya seperti biasa.
Beliau yakin allah akan melindungi dan PKI tak akan pernah menyerbu kajen.Meski demikian ,bukan berarti beliau lengah:beliau tetap waspada dan mengajak santrinya berjaga-jaga.Ternyata keyakinan beliau benar,PKI tak pernah menyerbu kajen,meskipun konon sudah sampai di desa sekarjalak yang  berdampingan dengan kajen.Beliau nyaris tak pernah menampakkan kepanikan,meskipun dalam situasi yang di anggap ‘kritis’dan berbahaya.Sejak awal,keyakinan pada allah menyebabkan beliau tak pernah terusik oleh carut-marut peristiwa sosial politik di sekitarnya : mulai dari teror penjajahan jepang,agresi militer Belanda II Tahun 1945-1949,maupun pemberontakan PKI Madiun 1949 yang juga sempat sampai kajen.
          Beliau juga di kenal tidak mengeluh, bahkan di saat sakit beratpun.Pernah suatu saat di tahun 1999 Mbah Dullah Jatuh dari tangga dan punggungnya menghantam pinggiran meja sehingga mengakibatkan tulang punggungnya menonjol  keluar sekitar dua senti.Saat itu juga tukang pijat yang menjadi  langganan beliau, dipanggil. Konon,menurut tukang pijat tersebut,beliau mengalami  patah tulang dan akan sakit sekali bila dilakukan pemijitan.Tapi ,ketika pemijitan dilakukan mbah dullah cuma diam saja , sehingga tukang pijat sendiri itu heran. Menurut tukang pijat tersebut, orang yang paling muda pun,demikian komentarnya.
          Selesai,tukang pijat tersebut menyarankan  mbah dullah agar tidak banyak berjalan :tetapi beliau tetap berjalan ke mosholla untuk sholat fardhu berjamaah,shalatnya pun beliau lakukan sambil berdiri.Akibatnya biisa di duga : belum sampai sepuluh hari tulangnya yang patah menonjol kembali,tukang pijat memijat kembali di undang untuk melakukan pemijatan ulang.Anehnya,selang beberapa selang kemudian saat beliau harus check-up tulang padahal sehabis jatuh tonjolan itu bahkan bisa dilhat dengan mata telanjang.
C.Tawadlu’
      Tawadlu’adalah sikap mbah dullah yang juga menonjol.Konon,saat fisiknya masih kuat,setiap bulan  ramadan sesekali beliau menghidangkan santapan sahur hasil masakan sendiri dan tak mau dibantu.Ketika masih sehat,beliau memang terbiasa mengerjakan sendiri semua kebutuhan sehari-harinya : mulai menyiapkan makanan,minuman sampai dengan mencuci barang pecah belah dan pakaiannya sendiri.Bahkan bagi sebagian tamu-tamunya,sering kali beliau sendiri tak segan-segan menyiapkan makanan dan minuman.
       Sikap tawadlu’juga tercermin dari cara beliau menyikapi aktivitas sosial keagamaan yang beliau niatkan untuk memakmurkan masjid ; sehingga beliau tidak pernah keberatan yang beliau rintis bersama KH.Muhammadun tidak diikuti otang atau mudah diisi oleh orang lain,selama tujuan memamurkan masjid tercapai.
       Beliau juga tidak merasa kesal atau sakit hati terhadap kritik atau koreksi meski datang dari orang yang jauh lebih muda dan lebih ‘terbatas ilmunya’; bahkan walaupun kritik dan koreksi tersebut sebenarnya keliru atau salah alamat.Dalam pengajian hari kamis misalnya,aapkali bacaan beliau dipotong dan dikoreksi orang.Bukan Cuma sekali dua kali,bacaan bisa dipotong berkali-kali sehingga membuat para pendengar lebih kesal dan menggerutu.Tapi mbah Dullah sendiri tak menampakkan kekesalan,bahkan meneladani dan sering kali jutru mengambil sikap layaknya seorang murid yang minta bimbingan gurunya.
        Sikap tawadlu’ nampaknya sudah menjadi pembawaan beliau,setiap kali berhadapan dengan orang ,beliau hampir sekali memposisikan dirinya pada tempat yang lebih rendah ketimbang  yang dihadapi meski sangat jarang dan biasanya hanya pada orang yang dekat paling jauh beliau akan memposisikan diri pada tempat yang lebih tinggi dari orang yang di hadapi.Seperti  air,beliau selalu mencari tempat yang lebih rendah yang bisa dicapai.
         Ada Kisah menarik dari sikap mbah dullah ini,saat iitu malam jum’at,dan seperti biasanya setiap malam beliau berziarah ke makam KH.Ahmad Mutamakkin,Cuma kali ini beliau ditemani oleh KH.Muslim Rifa’i imampuro (Mbah Lim) Klaten. Setelah beberapa kali menolak,akhirnya dengan terpaksa Mbah Dullah mau memimpin tahlil.Nah,tepat pada pengucapan kalimat tahlil,perlahan-lahan kendali kepemimpnan tahlil bergeser dari mbah dullah ke mbah Lim.Ini terjadi karena mbah dullah terbiasa dengan pengucapan kalimat tahlil yang berirama tetap,dengan vokal yang relatif lembut dan temponya pun lambat ; sementara mbah Lim  bsa mengucapkan kalimat tahlil dengan irama naik turun,vokal yang keras dan tempo yang cepat.Sehingga lambat lebih suara mbah dullah tenggelam di tengah suara mbah lim.Akibatnya jamaah lebih mendengar suara mbah lim ketimbang suara mbah dullah,dan mereka pun mulai mengucapkan tahlil seirama dengan yang diucapkan mbah lim.
         Melihat hal ini,mbah dullah mengalir saja sama sekali tak mengesankan kegelisahan san kekesalan dan bahkan ikut tenggelam dalam hentakan tahlil yang dipimpin mbah Lim.Maka gema suara tahlil yang luar biasa menggetarkan itu terus mengalir sedemikian rupa,tanpa seorang pun menghentikan.Mbah Dullah yang tampak karam tak menghentikan,karena merasa bahwa kendali sudah berada di tangan mbah Lim; sementara mbah lim sendiri sempat gelisah pada berapa kesempatan tak bisa menghentikan karena berasa bahwa pada dasarnya yang memimpin adalah mbah dullah.Akibatnya : suara tahlil yang menggetar itu sampai lebih dari satu jam tanpa ada yang berani berinisatif menghentikan ,sehingga jamaah yang yang memenuhi ruangan pada malam itu banyak yang gelisah dan letih,konon bahwa ada yang sampai pingsan.Ddan memang,pembacaan tahlil itu pada akhirnya ditutup oleh mbah lim,karena tak ada tanda-tanda bahwa mbah dullah akan menutupnya.Demikianlah,bacaan dan doa setelah kalimat tahlil,seterusnya dipimpn mbah lim hingga seluruh proses berakhir ; sementara mbah dullah tetap memposisikan dirinya sebagai makmum.
          Ada kisah lain,yang masih berhubungan dengan mbah Muslim.Kisah terjadi di akhir tahun 1999 atau awal tahun 2000.Saat itu siang hari,mbah Lim berkunjung ke rumah mbah dullah . Nah,ketika hendak pamit mbah lim meminta kepada mbah dullah untuk berdoa.Mbah Dullah menampik,dengan alasan sudah tidak bisa berdoa,’’anda saja yang berdoa,saya cukup menamini sa’’kata beliau sambil mengangkat tangan untuk mengamini do’a.Mbah Lim yang menyangka bahwa mbah dullah sudah mulai berdoa .Langsung mengangkat tangannya untuk mengamini.Demikianlah,mabah dullah mengaminkan do’a yang disangka sudah diucapkan oleh mbah dullah saling menaminkan tanpa do’a yang terucap ini berlangsung hampir empat puluh lima menit.
        ‘Ketenggelaman’ dua tokoh ini dalam celupan’saling mengaminkan ini’(sekedar mengi ngatkan;amin-aman-iman secara harfiah seakar kata,sehingga kalimat ini juga bisa dibaca’saling mengamankan ‘atau saling mengimankan’) membuat sebagian orang yang mengikuti peristiwa tersebut menjadi gelisah,karena tak ada tanda-tanda kapan berakhir.Karena kegelisahan ini,sopir yang diajak mbah lim keluar ruangan dan berinisiatif menghubungi salah satu putra mbah lim yang kebetulan berada di sana.Ia meminta agar putra lim agar memberitahukan situasi amin tanpa do’a yang sedang berlangsung;tapi anehnya , ketika diberi tahu putranya tentang peristiwa tersebut,mbah lim malah tampak senang.’’Bagus itu,bagus !’’demikian komentarnya sambil melanjutkan acara ‘saling mengaminkan’tersebut.Barulah,setelah berlangsung selama kurang lebih seperempat jam dan juga karena adzan Ashar sudah lewat,mbah Lim berinisiatif menutup do’a tersebut dengan bacaan Fatihah.
          Sikap tawadl’memang sangat mewarnai kisah kehidupan mbah Dullah ,Bahkan pada putranya ia berpesan ‘’kalau saya meninggal kelak,tak usah diumumkan kemana-mana.Jangan sampai terjadi orang bergiliran,rombongan demi rombongan melakukan sholat jenazah.Saya malu terhadap perlakuan macam  itu karena belum tentu saya termasuk golongan orang baik !’’Memang,sangat banyak hal-hal yang oleh orang lain akan diterami sebagai kemuliaan,bagi beliau justru akan dihindari.
D.Kedermawanan
        Mbah Dullah juga dikenal sebagai orang yang murah hati dan suka bersedekah tanpa menghitung nilai barang yang diberikan.Jika beliau memilki sesuatu,dan ternyata sesuatu itu diinginkan oleh orang lain; maka tanpa pikir panjang meski  nilai nominal sesuatu itu tinggi beliau akan segera memberikannya.Sikap dermawan ini sudah tampak sejak beliau muda.
         Pernah,misalnya,suatu saat beliau memakai batu akik yang mahal menurut ukuran harga umum dalam suatu walimah pernikahan; dan kebetulan salah seorang sahabat lamanya yang duduk agak jauh dari beliau tampak tertarik dengan akik beliau.Begitulah,ketika acara selesai ada beliau hendak pulang,sambil berjalan beliau menghampiri sahabatnya.’’ini untuk anda’’! katanya sambil mencopot sambil menyerahkan akik tersebut.Sang sahabat yang terkaget-kaget dan tak menyangka kejadian  semacam itu,tentu saja menolak dan berusaha mengembalikan akik yang telah diserahkan padanya,’’bukan,ini memang  jatah anda ‘’! kata mbah dullah sambil menepis pengembalian batu akik tersebut;sang sahabat tak bisa berbuat apa-apa kecuali tertegun karena kejutan yang serba mendadak itu.
          Pernah juga,saat mbah dullah berkunjung ke rumah salah satu kenalannya,tiba-tiba muncul permintaan yang tidak masuk akal dari salah seorang yang kebetulan berada disana ; yang meminta sandal  yang dikenakan mbah dullah.Tentu saja permintaan ‘gila’ini membuat geger beberapa orang kebetulan berada  disana.Mereka mencoba mencegah,dan menjelaskan bahwa mbah dullah tidak punya sandal cadangan untuk beliau pakai pulang.Tapi mbah dullah sendiri tenang saja,dan justru melerai kemarahan orang-orang yang mencoba permintaan tersebut.Sandal langsung beliau berikan,dan beliau rela bertelanjang kaki.Meski pada akhirnya beliau tidak benar-benar pulang bertelanjang kaki karena diantara yang hadir ternyata ada pemilik toko sepatu meskipun tokonya sudah tutup karena sudah pukul sepuluh lebih tak keberatan mengambil sandal pengganti untuk beliau. Namun sikap beliau yang tanpa beban bisa melepaskan sesuatu yang dibutuhkan sendiri untuk memenuhi kebutuhan orang lain,benar-benar mencerminkan kedermawanan yang nyaris sempurna.
         Perhatiannya terhadap kaum’juga besar.Melihat kenyataan bahwa  banyak biaya pemeliharaan kesehatan yang relatif tak terjangkau oleh kemampuan kemampuan ekonomi  masyarakat pedesaan,beliau  berinisiatif mendirikan balai kesehatan yang kini menjadi rumah bersalin (RB) sebagai fasilitas pelayanan kesehatan bagi orang yang kurang mampu,tentu dengan pengobatan  yang sangat ringan.
SEKITAR  AKHIR  HAYAT BELIAU
      Pada malam ahad,sepuluh november 2001,sekitar ba’da is’ya seorang  tamu lelaki datang ke rumah KH.Adullah Salam.Meski  tindak-tinduk  memperlihatkan bahwa ia baru pertama kali datang dan masih asing dengan lingkungan disana,namun seperti  sikap orang sahabat yang sudah lama tak bertemu dia tampak tak bisa menyembunyikan keinginannya yang sangat untuk segera berjumpa dengan sang pemilik rumah.Bahkan,dengan setengah memaksa , dia sempat berkali-kali memohon kepada para santri yang berada ditempat tersebut,agar segera mempertemukan dengan beliau.Tapi,setelah dijelaskan bahwa KH.Abdullah Salam sedang sakit dan tak mungkin bisa menemui tamu; akhirnya lelaki tersebut mau mengalah dan menerima saran para santri agar bertemu dengan putra lelaki beliau yang tertua saja yakni KH.Nafi’ Abdillah untuk segera mengutarakan tujuan kunjungannya.
       Di rumah KH.Nafi’Abdillah inilah si tamu yang mengaku berasal dari jember,bercerita panjang lebar tentang pengalamannya ketika bekerja sebagai TKI di saudi arabia sekitar satu tahun sebelumnya.Waktu itu,demikian dia bercerita,ia bekerja sebagai sopir taksi di makkah .Suatu hari,taksinya dinaiki oleh beberapa penumpang;salah satu seorang diantaranya sudah sepuh.Di sepanjang perjalanan inilah ,sopir sering terlibat pembicaraan dan ditanya banyak hal oleh sang penumpang sepuh tersebut.
       Ketika hendak turun,si penumpang sembari menepuk-nepuk pundaknya bahkan sempat berpesan :”bila kamu kelak sudah pulang ke jawa,dan suatu saat kebetulanlewat jawa tengah , mampirlah ke rumah saya di kajen utara pati ,cariah rumah Abdullah Salam !’’ketika sang tamu sampa disini ,KH.Nafi’ Abdillah tak bisa menyembunyikan keterkejutannya.Karena , dalam kenyataannya,sejak pergi haji pada tahun 1983 , KH.Abdullah Salam memang tidak pernah lagi ke makkah .Apalagi sejak tahun 1998,kondisi fisik beliau sudah banyak menurun,sehingga tidak mungkin lagi untuk bepergian jauh yang hingga menguras tenaga.
        Meski demikian,untuk mengecek kebenaran ceritanya sekaligus untuk menyakinkan bahwa orang yang dimaksud oleh cerita tamu tersebut KH.Nafi’ Abdillah sempat menunjukkan potret KH.Abdullah Salam,tanpa ragu lagi sang tamu memastikan bahwa memang orang di potret tersebutlah yang telah menaiki taksi di makkah :Bahkan pakaian dan sorban yang dikenakan sama persis.
         Kini si tamu yang ganti terkejut,mengetahui bahwa orang yang menaiki taksi ternyata tidak pernah sampai di Makkah.Dia tak kuasa lagi menahan tangisnya.Menyesal,karena sejak pulang dari saudi arabia tujuh bulan lalu baru pada malam itu dia baru sempat berkunjung ke rumah KH.Abdullah Salam,ini terjadi karena menganggap peristiwa biasa.Dia sama sekali tak menyangka bahwa penumpang tersebut tak pernah pura-pura sampai ke makkah.Kecuali karena menaiki taksinya; penumpang tersebut juga tak menunjukkan keanehan apa-apa,dan bahkan membayar taksinya seperti biasanya.
       Nah,ketika tamu hendak berpamitan pulang KH.Nafi’ Abdillah sempat berpesan agar peristiwa tersebut jangan diceritakan pada siapapun.Bahkan KH.Nafi’ Abdillah sempat membelokkan cerite tersebut,dan mencoba menyakinkan bahwa mungkin yang ditemui tamu tersebut adalah KH.Ahmad Mutamakkin,karena mbah mutamakin sering berperilaku demekian.Pesan ini dsampaikan KH.Nafi’ Abdillah,karena kekhawatiran yang mendalam atas kondisi kesehatannya,KH.Abdullah Salam . Berdasarkan kebiasaan, bila rahasia kedudukan telah dibuka oleh allah., maka itu artinya akhir dari keberadaan orang tersebut dimuka bumi.Apalagi kehadiran orang tersebut yakni pada malam ahad bertepatan dengan terus memburuknya kondisi kesehatan KH.Abdullah Salam.Tensinya mulai tidak stabil,kesadarannya mulai datang hilang datang hilang.
      Kehadiran tamu asing’pembawa berita’tersebut dan memburuknya kondisi KH.Abdullah Salam,bukan sebuah kebetulan,tapi lebih sebagai sebuah kepastian yang lebih ditata sedemikian rupa oleh sang pengatur.Inilah penyebab kekhawatiran KH.Nafi’Abdillah ; kekhawatiran seorang anak akan kehilangan ayahnya.Dan kekhawatiran ini tanpa alasan.
       Sejak seminggu sebelumnya,hari ahad 4 november 2001,kesehatan KH.Abdullah Salam tamapak mulai mengalami gangguan yang cukup serius.Pada hari seninnya,seperti kebiasaan setiap hari,pagi-pagi betul meski dengan kondisi fisik yang sudah sangat lemah,beliau masih memaksakan diri dengan tertatih-tatih untuk berziarah ke kakek buyutnya sekaligus’guru rohaninya’,yaitu KH.Ahmad Mutamakkin.Disini,tak seperti biasanya beliau Cuma berdoa singkat sekitar satu-dua menit,setelah itu langsung pulang . Malam sebelumnya,pada cucunya Muhammad Ainun Naim,beliau sangat mengutarakan sesuatu tentang’’cepet rikat gampang’’(cepat segera mudah) yang ingin beliau ungkapkan dikubur KH.Ahmad Mutamakkin.Maksudnya jelas, beliau sepertinya sangat mudah menyadari bahwa waktunya telah tiba, dan beliau ingin agar proses datangnya waktu tersebut berlangung dengan cepat,segera,mudah.
        Tak lama kemudian, dokter Muhtadi yang sudah puluhan tahun menangani kesehatan beliau sehingga lebih nampak sebagai dokter pribadi datang memeriksa.Melihat detak jantung beliau yang tampak cepat dan tidak stabil , dokter Muhtadi sempat kaget sempat memaksa beliau agar mau untuk segera dirawat di rumah sakit.Meski sebelumnya beliau sempat menolak ketika saran yang sama diajukan oleh putra-putrinya , entah kenapa mungkin ini karena permintaan dokter kali ini beliau mau menerima saran tersebut bahkan ketika hendak berangkat ke rumah Sakit Islam ‘’Sunan Kudus’’ untuk dirawat , beliau sempat baerpamitan pada istrinya,nyai aisyah ‘’sudah ya,saya mau pamit mau berangkat meninggal !’’.
       Hal yang sama diulangi lagi ketika beliau memaksa untuk pulang dari rumah sakit pada hari sabtu 10 november 2001.Waktu itu,dokter di rumah sakit menghendaki beliau agar mau dirawat sampai kondisi kesehatannya relatif membaik ;tetapi pada cucunya Muhammad Ainun Na’im,beliau malah menegaskan’’buat apa lama-lama disini’’,saya mau pulang sekarang,saya ini mau meninggal !’’ memang,sudah lebih setahun terakhir , beliau acap berkata bahwa beliau sudah tidak punya apa-apa lagi’’kecuali ini’’. Katanya sambil menunjuk jam tangan yang digunakannya.Waktu itu tak ada yang berpikir bahwa yang beliau maksud adalah : yang beliau miliki tinggal waktu yang menunggu jemputan ajal.
        Sebenarnya setelah lewat sehari dirawat di rumah sakit , berulang-ulang beliau meminta untuk segera dibawa pulang. Menurut beliau sendiri, keberadaannya di rumah sakit hanyalah memenuhi saran dokter,tidak lain. Maka sehari semalam di rumah sakit bagi beliau sudah lebih dari cukup untuk memenuhi saran tersebut , selebihnya beliau ingin secepatnya pulang . Beliau masih mengatakan bahwa perawatan tak perlu lagi,karena waktunya sudah tiba . Namun demikian , keinginan ini selalu bisa dicegah.
        Pagi itu keinginan beliau untuk pulang tak bisa lagi dicegah lagi , dan beliau akhirnya memang banar-benar pulang ke rumahnya di kajen.Bahkan tampaknya bukan sekedar ingin pulang ke rumah , tapi sekaligus pulang ke kamarnya sendiri .Ini tampak ketika keluarganya menyiapkan kamar khusus d rumah tersebut , yang dimaksud untuk mempermudah perawatan, beliau menolak dan terus memaksa untuk ditempatkan di kamarnya sendiri.Akhirnya beliau ditempatkan di kamrnya sendiri yang sangat sederhana,tempat yang menjadi saksi pengabdian beliau dan tampaknya juga ingin menjadi kan saksi kepergiaannya beliau.
        Setelah semalam kondisi kesehatannya tampaknya tidak stabil,sehabis subuh beliau tampak tertidur nyenyak.Kondisi ini berlangsung sampai ajal menjemputnya pada pukul 14.33 WIB.Kondisi ini beliau demikian tenang dan damai ketika berangkat menuju kekasih agungnya . Hari itu ahad 11 November 2001 , yang bertepatan dengan 25 sya’ban 1422 H , semesta tertunduk menghormati keberangkatan sang permata , inna lillahi wa inna ilaihi rojiun.
Kajen , 12 februari 2003 M/10 Dzulhijjah 1423 H
Redaksi buletin amanat
Pati , 17 februari 2003 M/15 Dzulhijjah 1423 H