POTRET SANTRI IDEAL DI ERA GLOBAL

POTRET SANTRI IDEAL DI ERA GLOBAL

Admin
Senin, 16 Maret 2015


Era sekarang terkenal dengan nama globalisasi. Globalisasi adalah sistem ‘kesejagatan’. Artinya, tidak ada batas-batas yang menganggu interaksi, komunikasi, dan aktualisasi. Dalam hitungan detik, peristiwa yang terjadi di Afghanistan, Libya, Amerika Serikat, apalagi Jakarta dapat disebarkan ke seluruh dunia. Internet, hand phone, televisi, radio, dan lain-lain menjadi media informasi efektif di era global. Ada dampak positif dan negatif dalam globalisasi. Demokratisasi, keterbukaan, partisipasi publik, jaringan luas, dan kesetaraan adalah buah globalisasi. Kemerosotan moral, kesenjangan kaya-miskin, eksploitasi sumber daya alam, hilangnya kebudayaan lokal, dan lahirnya generasi ‘pasif dan pengekor’ adalah petaka globalisasi. Namun itulah realitas dunia yang ada di depan kita, menerima dan menolak sama saja. Globalisasi akan terus lari ‘tunggang langgang’ meninggalkan mereka yang lamban, stagnan, dan takut resiko.
Pilihan terbaik adalah menjadi pemain aktif yang mampu mewarnai dunia. Mengingat ciri utama globalisasi menurut Prof. A. Qodri Azizy, Ph.D. adalah kompetisi[1], maka yang muncul sebagai pemenang adalah mereka yang mempunyai kemampuan terbaik, tercepat, dan terkuat.  Sedang mereka yang miskin, pasif, dan terbelakang akan semakin tersisih dalam percaturan dunia. Oleh sebab itu, menurut Prof. Dr. Mastuhu, M.Ed., sekarang ini, dunia dikuasai oleh technological innovator, seperti Amerika serikat, Inggris, Jepang, Taiwan, dan Korea Selatan. Sedangkan Indonesia masih dalam posisi technological adopters. Yang lebih mengenaskan adalah negara yang ada dalam posisi technologically excluded, yang masih terlilit utang dan tidak mampu membayarnya.[2]
Pesantren terbukti mampu melahirkan aktor-aktor global yang kreatif, dinamis, dan kosmopolit. KH. M. Hasyim Asy’ari, KH. Abdul Wahab Hazbullah, KH. Bisyri Syamsuri, KH. A. Wahid Hasyim, KH. Abdurrahman Wahid, KH. MA. Sahal Mahfudh, KH. Maimun Zubair, KH. A. Musthofa Bisyri, KH. A. Hasyim Muzadi, dan KH. Said Aqil Siraj. Itulah yang membuat kagum banyak kalangan. Menjadi santri zaman dulu memang istimewa di mata masyarakat. Menurut Prof. Zamakhsyari Dhofier, Ph.D. (1994), pergi dan menetap ke pesantren yang jauh dan masyhur merupakan keistimewaan bagi seorang santri yang penuh cita-cita. Ia harus memiliki keberanian yang cukup, penuh ambisi, dapat menekan perasaan rindu kepada keluarga maupun teman-teman sekampungnya, sebab setelah selesai pelajarannya di pesantren, dia diharapkan menjadi seorang alim yang dapat mengajar kitab-kitab dan memimpin masyarakat dalam kegiatan keagamaan.[3] Harapan besar masyarakat memang bisa dipenuhi oleh mayoritas santri zaman dulu. Mereka kembali ke kampung halaman dengan kualitas ilmu dan akhlak yang terpuji. Mereka mengembangkan masyarakat tidak hanya aspek keilmuan, tapi juga pemberdayaan ekonomi kerakyatan. Menurut Dr. Binti Maunah, M.Pd.I (2009), salah satu kelebihan pesantren adalah nilai-nilai kebangsaan dan patriotisme, pluralisme, toleransi, humanisme, akomodasi, dan evolusi.[4]
Apa sebenarnya rahasia pesantren mampu melahirkan aktor-aktor global tersebut ?
Pertama, pesantren mengedepankan ilmu alat, seperti bahasa, nahwu, sharaf, balaghah, manthiq, ushul dan qawa’id fikih, arudh, dan lain-lain. Penguasaan terhadap ilmu ini membuat santri mampu mempelajari sendiri semua jenis ilmu yang ada. Walaupun hanya belajar Jurumiyah (nahwu) kepada kiai, karena penguasaan yang baik terhadap ilmu alat, santri tetap bisa melakukan ‘penjelajahan intelektual’ dengan membaca sendiri kitab-kitab lain, seperti ‘Imrithi, Alfiyah, Uqud al-Juman, Ghayah al-Wushul, dan lain-lain. Santri menjadi pembelajar mandiri. Mental otodidak (belajar sendiri) membuat santri sebagai sosok ‘mutabahhir fil ilmi’, orang yang mengarungi lautan pengetahuan yang tak bertepi.[5]
Kedua, pesantren mendorong santri untuk aktif munadharah (diskusi), mutharahah (debat), muthala’ah (membaca secara mendalam), ta’liq (mencatat keterangan) dan takrar (repeating, mengulang). Munadharah melatih santri untuk berani mendemonstrasikan pemikirannya, mutharahah melatih santri dalam membangun argumentasi dan mempertahankannya, muthala’ah melatih santri berpikir kritis dan analisis, ta’liq melatih santri menjadi seorang ‘writer’ (katib), dan takrar melatih santri dalam menguatkan daya ingatnya sesuai kaidah ‘al-hafidzu hujjatun ala man la yahfadz’, orang yang kuat hafalannya menjadi kunci mengalahkan orang yang lemah hafalannya.[6]
Ketiga, pesantren menanamkan spirit ‘optimisme’ dalam menatap masa depan. Optimisme dimulai dari niat pertama kali menuntut ilmu untuk menggapai ridla Allah, menghilangkan kebodohan, dan mengibarkan panji kebesaran Islam, bukan mencari dunia, jabatan, popularitas, publisitas, dan lain-lain. Setelah itu  rajin melakukan riyadlah (tirakat), baik itu puasa, sahr al-layali (tidak tidur malam), membaca wirid (ijazah dari Kiai), dan lain-lain. Setelah menguasai ilmu, kembali ke tengah masyarakat dengan optimisme tinggi, berwirausaha untuk menggapai kemandirian ekonomi dan mendidik masyarakat untuk mengamalkan ilmunya. Optimisme ini melahirkan cita-cita tinggi, keyakinan kuat, kepercayaan diri, dan tekad bulat untuk meraih keberhasilan tanpa menggantung orang lain. Sesuai kaidah pesantren ‘al-i’timadu ala al-nasfi asas al-najah’  berpegangan dengan kekuatan sendiri menjadi kunci kesuksesan. Optimisme menghilangkan kemalasan, kecemasan, dan kegundahan. Optimisme menyemaikan kerja keras, kerja cerdas, dan semangat pantang menyerah dalam menuntut ilmu. Kemandirian, prestasi dan kesuksesan akan lahir dari optimisme. Orang yang optimis berani menghadapi resiko. Menurut Rudy Haryono (1999), orang-orang sukses pada umumnya tidak pernah takut menghadapi risiko. Orang-orang yang aktif dan bersemangat tinggi dalam mencapai sukses tak pernah jera sekalipun berkali-kali ia menghadapi risiko. Ia tak pernah jera meskipun gagal bertubi-tubi. Senantiasa bangkit dan akhirnya menemukan jalan menuju keberhasilan. Hanya orang-orang yang berjiwa kerdil saja yang takut menghadapi risiko. Karena khawatir menghadapi risiko, maka seringkali mereka menangguhkan rencana. Padahal gagasan dan rencananya itu sangat baik. Setiap langkah, setiap usaha, dan setiap kali melakukan kegiatan, risiko pasti ada. Risiko selalu mengikuti pekerjaan yang kita lakukan. Tergantung bagaimana cara kita melaksanakan pekerjaan sehingga menekan risiko sekecil mungkin. Jika ada gagasan baik atau ide bagus, maka cepat-cepatlah bertindak untuk melaksanakan. Jangan sampai didahului oleh perdebatan pikiran; antara jadi melaksanakan atau membatalkannya. Walaupun demikian, kita harus mampu memprediksikan rintangan yang ada dan menghadapinya dengan tenang. Anda harus yakin mampu melalui rintangan-rintangan itu.[7]
Andeas Harefa (2001), mengutip pendapatnya Maxwell Maltz, mengemukakan tujuh ciri kepribadian sukses. Pertama, sense of direction. Orang yang sukses mempunyai kemampuan untuk mengarahkan dan memimpin dirinya sendiri. Ia tidak ditentukan oleh situasi lingkungannya. Kedua, understanding. Orang sukses mempunyai kemampuan untuk memahami dirinya sendiri, memahami orang lain, dan memahami pekerjaan mereka. Dan, mungkin ini jauh lebih penting, mereka mau belajar memahami segala sesuatu. Ketiga, courage. Keberanian bertindak merupakan hal yang melekat dalam diri orang berkepribadian sukses. Apapun risiko yang menghadangnya, tak membuat mereka mundur. Secara sederhana dapat disimpulkan, bahwa mereka berprinsip “lebih baik bertindak walau kelak terbukti tindakan itu salah dari pada takut bertindak dan karenanya tidak pernah melakukan sesuatu”. Manusia yang hanya membeo dan tak pernah berani menyatakan pilihan sikap yang berbeda dengan orang lain, tidak masuk dalam kategori ini. Keempat, charity. Sifat kikir dan egosentris tidak membuat seseorang meraih sukses. Kemurahan hati, murah dalam memberikan pujian, suka menolong, bersedia membagi hak miliknya pada orang lain, adalah sifat-sifat yang menyertai kesuksesan seseorang. Kelima, esteem (self-esteem). Suka mengemis, meminta belas kasihan, dan mentalitas budak bertentangan dengan tabiat orang sukses di segala zaman. Orang sukses mempunyai harga diri yang sehat. Keenam, self-acceptance. Orang sukses menerima kelemahan-kelemahan mereka, sekalipun mengetahui bahwa dalam diri mereka terdapat kekuatan-kekuatan yang unik dan berbeda dengan manusia lain. mereka enggan menyediakan waktu untuk meratapi kelemahan-kelemahan mereka, tetapi berusaha keras mengembangkan potensi-potensi positif yang telah dikaruniakan Sang Ilahi kepadanya. Ketujuh, self-confidence. Inferiority complex dan superiority complex tidak melahirkan orang sukses. Kepercayaan diri ini berkaitan erat dengan penerimaan diri sebab percaya diri merupakan akibat dari adanya self-acceptance dan self-respect. Sikap minder dan arogan adalah musuh besar kepribadian sukses.[8] 
Keempat, pesantren melatih santri untuk melek ‘organisasi’ sebagai media memperjuangkan agama. Organisasi mempunyai peran penting untuk membentuk mental dan kepribadian yang toleran, demokratis, dan pluralis. Organisasi mendorong santri untuk aktif mengembangkan keilmuan dan wawasan masa depan. Interaksi dan relasi sosial yang luas menuntut santri untuk beradaptasi agar tidak ketinggalan dan lebih dari itu berusaha menjadi ‘leader’ yang memandu perubahan yang berlangsung.
Kelima, pesantren mengokohkan visi sosialnya kepada santri secara efektif. Visi sosial adalah pandangan jauh ke depan tentang bagaimana membangun masyarakat yang sesuai dengan nilai-nilai Islam universal, seperti keadilan, kesejahteraan, kemajuan, kearifan, kesetaraan, kebahagiaan, dan kerjasama dalam membangun kebaikan dan meminimalisir kejelekan.[9] Dengan visi sosial ini, santri kembali ke masyarakat, berproses ditengah-tengah masyarakat, membimbing dan mengajarkan agama, membangun perekonomian rakyat kecil, mengembangkan kualitas pendidikan, memberikan keteladan moral dan dedikasi, serta aktif melakukan kaderisasi demi menghadapi masa depan yang penuh tantangan.
Lima rahasia sukses santri ini sekarang jarang dilakukan oleh para santri era sekarang. Akhirnya, kualitas mereka jauh dibawah santri zaman dulu, sedangkan tantangan hidup justru semakin kompleks. Disinilah terjadi kesenjangan antara tuntutan santri ideal dengan realitas kemunduran dan kemerosotan santri. Lebih ironis lagi, pesantren akhir-akhir ditengarahi sebagai lembaga yang melahirkan para teroris yang ditakuti dan menjadi musuh utama dunia.[10]
Maka tidak ada jalan lagi bagi santri kecuali merespons tantangan global ini dengan mempersiapkan diri menjadi aktor pengubah sejarah dunia masa depan untuk meneruskan era kepemimpinan KH. MA. Sahal Mahfudh, KH. Abdurrahman Wahid, dan KH. Said Aqil Siraj. Dua puluh tahun atau lima puluh tahun ke depan, siapa yang mengganti mereka kalau bukan kita kaum santri ?
Semangat untuk mengejar ketertinggalan tidak boleh padam. Karena di pundak kita terletak era keemasan peradaban Islam di masa datang. Kalau kemalasan yang menghiasi diri ini, maka kebangkitan Islam hanya ilusi belaka, Islam akan terus dibombardir kekuatan-kekuatan lain agar tidak mampu bangkit dan kalau bisa hancur selama-lamanya. Pasti kita sebagai santri tidak menginginkan itu. Menyisingkan lengan baju, memahat cita-cita setinggi langit, dan siap berkompetisi untuk menggapai kemenangan spektakuler dan sensasional.[11]
The Power of Dream
            Langkah seribu dimulai dari ayunan kaki selangkah demi selangkah. Mengayunkan kaki membutuhkan energi, orientasi, dan target yang lahir dari mimpi akan masa depan yang cerah. Orang-orang besar mempunyai mimpi menggenggam dunia. Mereka memulai langkahnya satu demi satu dengan semangat tinggi, kerja keras, tidak kenal putus asa, pantang menyerah, dan terus mencipta selama hayat masih di kandung badan. Kekuatan mimpi begitu besarnya dalam menggerakkan seseorang untuk bergerak maju ke depan, berani mengambil resiko, dan siap menghadapi segala kondisi yang paling menyakitkan sekalipun. Cita-cita lahir dari mimpi besar.
            Ada syi’ir penuh makna yang ada dalam kitab Uqud al-Juman : “Lahu himamun la muntaha likibariha, wahimmatuhu al-shughra ajallu min al-dahri” dia mempunyai segudang cita-cita besar yang tidak ada batasnya, cita-cita kecilnya lebih agung dari (usia) masa. Namun santri sudah paham, mimpi saja tidak cukup, karena mimpi hanya starting point yang menggerakkan semangat belajar keras untuk menguasai pengetahuan dan teknologi yang digunakan untuk menggenggam dunia seisinya.
            Maka mulai sekarang bermimpilah menjadi ilmuwan sekaliber Imam Syafi’i, Imam Ghazali, Imam Ibn Rusyd, Ibnu Khaldun, Ibn Sina, Imam Nawawi, bahkan lebih dari itu. Tidak ada yang mustahil di dunia ini kalau kita sungguh-sungguh sepanjang masa. Pengembaraan Imam Syafi’i ke berbagai negara untuk menuntut ilmu adalah teladan maha agung bagi santri untuk terus mengasah kemampuan dan menghindari kesombongan. Menyerap ilmu dari berbagai penjuru dunia akan mematangkan ilmu sampai pada tingkatan yang sulit untuk dilalui seseorang.
The Power of Focus
            Fokus adalah menggunakan waktu, pikiran, tenaga, dan sumber daya lainnya untuk satu tujuan tertentu dalam waktu tertentu. Kalau di luar negeri, sistem pendidikannya menggunakan strategi spesialisasi, sehingga pelajarannya tidak banyak. Fokusnya bagaimana melatih anak memahami, menganalisis, dan meneliti materi yang diajarkan secara empiris. Pembelajaran di luar negeri, khususnya Amerika Serikat menggunakan pendekatan fokus, materinya sedikit tapi hasilnya luar biasa. Sedangkan di Indonesia, sistem pendidikannya menggunakan strategi generalisasi dengan materi yang sangat banyak, sehingga anak didik tidak fokus. Materinya banyak, tapi hasilnya sedikit. Anak kurang berlatih menganalisis dan meneliti secara empiris materi yang diterimanya dari guru.
            Maka, mulai sekarang fokuslah mendalami satu pengetahuan, baru berpindah kepada pengetahuan yang lain. Misalnya, alokasikan waktu satu tahun untuk menguasai bahasa Arab, satu tahun untuk menguasai nahwu, satu tahun menguasai sharaf, satu tahun menguasai balaghah, satu tahun menguasai ushul fiqih, satu tahun menguasai manthiq, satu tahun menguasai bahasa Inggris, dan lain-lain. Dahulukan ilmu alat, karena dengannya Anda bisa menjadi pembelajar mandiri yang tidak bergantung kepada guru. [12]
Potret Santri Ideal di Era Global
            Santri ideal untuk menghadapi tantangan global adalah santri yang mampu mengemban tanggungjawab besar dalam dirinya untuk meneruskan kepemimpinan para Nabi dan ulama. Menurut KH. Moh. Ilyas Ruhiat, kader idaman yang utama bagi pesantren adalah kader-kader kiai. Untuk menjadi kiai, tidak hanya berpulang kepada pesantren sebagai lembaga pendidikan, tetapi juga kembali ke pribadi-pribadi yang bersangkutan di tengah-tengah masyarakat. Pesantren memang telah menunaikan fungsinya dengan baik dalam membina para santrinya melalui penguasaan ilmu agama yang mendalam. Akan tetapi, jika fungsi ini tidak dibarengi tekad yang kuat dari santri untuk mengabdi kepada masyarakat dengan menyebarkan pengetahuan yang dikuasainya, maka potensi kekiaian yang ada padanya tentu tidak akan bisa lahir. Jadi proses melahirkan potensi kekiaian adalah tanggung jawab santri. Oleh sebab itu, tidak ada seorang santri, betapapun alimnya, bisa disebut kiai sebelum terjun di tengah-tengah masyarakat untuk membuktikan peran kekiaiannya. Dan memang, kiai adalah gelar yang hanya diberikan oleh masyarakat, bukan oleh pesantren atau lembaga lainnya.[13]
Mengingat tantangan dunia yang serba matrealis, hedonis, dan sekularis, santri ideal harus menguasai pengetahuan agama secara normatif, filosofis, holistik, dan non-dikotomik. Melanjutkan generasi Ibn Khaldun dan Ibnu Sina, selain ahli agama, juga seorang sosiolog, sejarawan, dokter, dan lain-lain. Menjadi ilmuwan multidisipliner atau dalam bahasa Anwar Ibrahim ‘mutafanni’, menguasai berbagai cabang pengetahuan. Perpaduan ilmu alam, rasional, dan spiritual inilah kunci kebangkitan Islam masa depan. Mengabdi kepada masyarakat, bangsa, negara, dan dunia menjadi keniscayaan untuk mengibarkan panji kebesaran Islam di muka bumi ini.(  Jamal Ma’mur Asmani, tulisan ini pernah di muat di Jurnal Khittah edisi I)


[1] A. Qodri Azizy, Melawan Globalisasi, Reinterpretasi Ajaran Islam, Persiapan SDM dan Terciptanya Masyarakat Madani, Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 2004, cet. 3, h. 26-28. Bahkan ada yang menggunakan istilah ‘hiperkompetitif’ yang menunjukkan makna persaingan keras dan tajam.
[2] M. Mastuhu, Sistem Pendidikan Nasional Visioner, Tangerang : Lentera Hati, 2007, cet. 1, h. 1-3
[3] Zamakhsyari Dhofier, Tradisi Pesantren, Studi tentang Pandangan Hidup Kyai, Jakarta : LP3ES, 1994, cet. 6, h. 52
[4] Binti Maumunah, Tradisi Intelektual Santri Dalam Tantangan dan Hambatan Pendidikan Pesantren di Masa Depan,  Yogyakarta : Teras, 2009, h. 21-22
[5] Baca dalam Az-Zarnuji, Ta’lim al-Muta’allim, pada bab keutamaan ilmu ada syi’ir reflektif dan inspiratif “Wakun mustafidan kulla yaumin ziyadatan minal ilmi wasbah fi buhuril fawaidi”, jadilah orang yang setiap saat mengambil tambahan faedah ilmu (ilmu yang bermanfaat) dan berenang dalam samudra faedah tersebut.
[6] Tradisi akademik ilmiah inilah yang membuat alumni pesantren tidak canggung berdiskusi di kampus. Contoh paling nyata adalah KH. MA. Sahal Mahfudh, alumnus pesantren Kajen Margoyoso Pati,  Bendo Kediri Jawa Timur dan Sarang Rembang. Baca Jamal Ma’mur Asmani, Fiqh Sosial Kiai Sahal Mahfudh, Antara Konsep dan Implementasi, Surabaya : Khalista, 2007, cet. 1, h. 1-41
[7] Rudy Haryono, Kunci Menggapai Sukses, Gresik : Putra Pelajar, 1999, cet. 1, h. 13-15
[8] Andrias Harefa, Suskes Tanpa Gelar, Jakarta : Gramedia Pustaka Utama, 2001, cet. 3, h. 13-15
[9] Rukun sosial ini menurut Gus Dur dinamakan rukun tetangga. Menurutnya, prinsip-prinsip yang telah dibakukan dalam al-Qur’an ada tiga, yaitu persamaan (al-musawah), musyawarah (asy-syura), dan keadilan (’adalah). Baca Abdurrahman Wahid, Gus Dur Diadili Kiai-Kiai, Penyunting : Imron Hamzah & Choirul Anam, Surabaya : Jawa Pos, 1999, cet. 2, h. 22-27
[10] Menurut Nurcholis Madjid, pesantren membuat semangat fundamentalisme yang tinggi sekali. Curahan perhatiannya diutamakan pada bidang fikih. Fundamentalisme dan puritanisme sering melahirkan sikap-sikap yang kaku. Nurcholis Madjid, Bilik-Bilik Pesantren, Sebuah Potret Perjalanan, Jakarta : Paramdina, 1997, cet. 1, h. 13
[11] Salah satu buku yang layak dibaca untuk memotivasi belajar dalam menggapai prestasi adalah karya Misbahul Huda, Mission ini Possible, Spiritualitas Kerja Menggapai Cita, Surabaya : JP Books, 2008, cet. 1
[12] Menurut Prof. Laode M. Kamaluddin, Ph.D. dan A. Mujib El Shirazy, ulama-ulama terdahulu dalam belajarnya adalah fokus dalam satu bidang, setelah menguasai secara mendalam, baru pindah ke bidang yang lain. Mereka taklukkan dulu ilmu tata bahasa dan ilmu kalam sampai di luar kepala, baru beralih ke ilmu fikih sampai hafal betul, baru beralih ke ilmu tafsir, baru beralih lagi ke ilmu-ilmu lainnya, begitu seterusnya. Baca Laode M. Kamaluddin dan A. Mujib El Shirazy, The Islamic Golden Rules, 17 Aturan Emas Meraih Puncak Kesuksesan dan Kejayaan, Pengantar dan Spesial Apresiasi : Prof. Dr. Mohammad Nuh, Jakarta : Ihwah Publishing House, 2011, cet. 1, h. 54-55
[13] KH. Moh. Ilyas Ruhiat, Ajengan Santun Dari Cipasung, Membedah Sejarah Hidup dan Wacana Pemikiran Islam Keumatan, Pengantar : Dr. Fuad Hasyim, Bandung : Rosdakarya, 1999, cet. 1, h.  139