Menggalakkan Tradisi Menulis di Kalangan Pesantren Pati

Menggalakkan Tradisi Menulis di Kalangan Pesantren Pati

Admin
Senin, 09 Maret 2015


Peradaban Islam adalah “peradaban buku”. Tidaklah berlebihan dengan pernyataan itu, mengingat Al-Qur’an—sebagai kitab suci—dapat disebut sebagai teks sentral dalam sejarah peradaban Islam. Hal itu bisa dibuktikan lewat sejarah. Penanda pertama ditandai dengan turunnya ayat Al-Qur’an yang pertama kali, berbunyi: “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha Mulia. Yang mengajarkan manusia dengan pena. Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya” (QS Al-‘Alaq: 1-5).
            Ada dua kata kunci dalam ayat di atas, yakni membaca dan pena. Membaca dalam konteks ayat tersebut secara tersirat tidak dalam pengertian membaca buku atau kitab, tetapi bersifat universal, yakni membaca apa saja, yang tersurat maupun tersirat. Sedang pena adalah simbol transfer ilmu. Pena menjadi alat untuk menulis, yang pada hakikatnya adalah alat untuk mengajarkan sesuatu dalam bentuk tulisan.
            Pena dijadikan salah satu surat dalam Al-Quran, yakni pada surat ke-68. Pada ayat pertama, Allah SWT bersumpah dengan pena, “Nun, Demi Pena...” Sungguh ini menjadi bukti bahwa Allah SWT begitu perhatian dengan dunia baca-tulis, karena saking manfaatnya yang besar. Membaca dan pena (alat menulis) baik dalam surat Al-‘Alaq maupun Al-Qalam ini menjadi ghirrah (passion) para ulama dalam menimba ilmu pengetahuan yang tak terbatas. Hal ini kita bisa merunut sejak pada masa Islam generasi pertama.   
            Pada masa Nabi Muhammad Saw. Al-Qur’an mulai ditulis oleh masing-masing sahabat. Setelah Nabi wafat, Umar bin Khattab kemudian menggagas agar Al-Qur’an dijadikan satu mushaf. Dari situ, jadilah Al-Qur’an yang kita lihat saat ini. Ketika Islam menyebar ke luar Mekkah dan Madinah, tuntutan tafsir/interpretasi atas Al-Qur’an menjadi keniscayaan. Hal itu disebabkan masyarakat di luar Makkah dan Madinah mempunyai konteks yang berbeda. Dari situ, mulai bermunculan tafsir-tafsir Al-Qur’an.
            Seiring dengan itu, ilmu-ilmu keislaman—yang terinspirasi dari pokok-pokok Al-Qur’an—mulai bermunculan, sesuai dengan kapasitas keilmuan ulama dan kebutuhan masyarakat pada waktu itu, seperti kitab-kitab fiqih, tasawuf, sejarah, sastra, politik, ekonomi, filsafat, kedokteran, dan lain-lain.
            Dari fenomena di atas, tak aneh kemudian ilmu pengetahuan dalam Islam berkembang pesat, dan puncaknya adalah meraih peradabannya. Hampir semua lini mengalami kemajuan: filsafat, politik, ekonomi, arsitektur, dan lain-lain. Warisan-warisan para ulama terdahulu masih dapat kita saksikan pada saat ini. Salah satu warisannya adalah karya tulis (buku/kitab).
            Jika berkunjung ke perpustakaan UIN Sunan Kalijaga, kita akan dapatkan deretan kitab-kitab klasik yang ditulis pada abaad-abad silam. Sebut saja misalnya, Tafsir At-Thabari, Tafsir Ar-Razy, Tafsir Az-Zamakhsyari, di mana semua kitab itu ditulis berjilid-jilid. Belum lagi, kitab Muqaddimah karya Ibnu Khaldun, Ihya ‘Ulumuddin karya Imam al-Ghazali, Al-Qanun fi ath-Thib karya Ibnu Sina, dan masih banyak lagi.
            Setiap abad selalu muncul karya-karya para ulama yang sangat mumpuni dan menjadi master piece di bidangnya. Ahli Tafsir Ibnu Katsir, ahli Hadis Imam Bukhari, Imam Muslim, Imam Malik, dan masih sangat banyak lagi, merupakan ulama-ulama hebat yang karya-karyanya masih bisa kita baca hingga kini. Mereka telah berjasa mengolah ilmu-ilmu keislaman yang banyak dijadikan referensi dan kajian para penulis selanjutnya. Itulah warisan para ulama yang terus menggema hingga kini.
            Tak terkecuali di Indonesia. Banyak para ulama Indonesia yang menulis pemikiran-pemikirannya dalam pelbagai bidang. Pesantren adalah gudangnya karya-karya para ulama Indonesia. Mereka biasanya memberikan penjelasan atas kitab-kitab yang ditulis para ulama terdahulu, baik dalam bentuk syarah maupun hasyiah. Bahkan tak jarang mereka menuliskan buah pikirannya sendiri. Sebagian para ulama Indonesia yang mempunyai tradisi menulis, yaitu Syaikh Nawawi Al-Bantani, KH Hasyim Asy’ari, KH Sholeh Darat, KH Afifuddin Muhajir Situbondo, KH Hasby Ash Shidiq, KH Munawar Cholil, Abdurrahman Wahid (Gus Dur), dan masih banyak lagi. Mayoritas para ulama Indonesia menulis kitab hanya untuk kebutuhan para santrinya, sehingga tidak terpublikasikan secara massif. Banyak karya-karya mereka masih tersimpan di kediamannya, dirawat oleh keluarganya.
            Tradisi menulis juga kemudian diteladani oleh para santri maupun keturunannya. KH Bisri Mustofa, ayahanda KH Mustofa Bisri (Gus Mus) adalah salah satu contohnya. Beliau menulis kitab begitu produktif, di antaranya kitab Al-Khulashah Ibn Malik, Sulam Safinah, ‘Aqidatul ‘Awam, Qahar lan Shalihah. Di dalam keluarga Gus Mus menulis sudah menjadi tradisi. Selain ayahandanya, kedua pamannya, KH Misbah dan KH Maksum Mustofa, juga ikut menulis. Hal itu kemudian terwarisi kepada diri Gus Mus, yang kini karya-karyanya begitu banyak dan beragam, baik fiksi maupun nonfiksi.
            Etos ayahanda dari Gus Mus dalam tulis-menulis memang patut dijadikan teladan. Dalam keadaan apa pun beliau tetap menulis. Menulis sudah seperti bernafas. Apa sebenarnya kiat beliau agar dapat menjaga motivasi menulisnya? Barangkali ini menjadi jawabannya. Penulis mendengar langsung dari Gus Mus pada waktu penulis silaturahmi ke rumahnya, di Rembang. Beliau bercerita suatu ketika Kyai Bisri Mustofa bertemu dengan Kyai Ali Maksum Krapyak. Mereka berdua berbincang-bincang.
            “Apa sih rahasia sampeyan bisa begitu produktif menulis, sementara saya selalu gak pernah selesai? Kalau soal kealiman, Insya Allah saya tidak kalah dari sampeyan,” ujar Kyai Ali Maksum. Mendengar pertanyaan itu, Kyai Bisri menjawabnya dengan kelakar, “Sampeyan menulis lillahi ta’ala sih!” Kiai Ali kemudian bertanya kembali, “Lha kyai menulis kok tidak lillahi ta’ala, terus niatnya apa?
            “Saya niat menulis nyambut gawe. Saya seperti halnya penjahit. Lihatlah penjahit, walaupun ada tamu, penjahit tidak akan berhenti menjahit. Dia menemui tamunya sambil terus menjahit, jika tidak, dia tidak bisa makan. Saya juga begitu. Kalau diawali dengan niat mulia, setan akan mengganggu sampeyan dan tulisan sampeyan ndak akan selesai. Nanti kalau tulisan sudah jadi, dan akan diserahkan kepada penerbit, baru kita niati yang mulia-mulia, linasyril ‘ilmi, misalnya. Jadi, setan perlu kita tipu, jawab Kyai Bisri panjang lebar.  
            Kisah di atas memberi pesan bahwa menulis bisa memadukan antara dakwah dan mencari rezeki. Dua hal itu bisa berkumpul dalam aktivitas menulis. Ini menjadi penyemangat bagi seorang muslim dalam menulis, karena bisa mendatangkan pahala dan rezeki. Jadi menulis sesungguhnya ladang dakwah juga, yang dapat kita tebarkan kepada khalayak masyarakat. Dakwah lewat pena (baca: menulis) ini, biasa kita sebut dakwah bil qalam.
Pati, Pesantren, Karya
Kabupetan Pati yang letaknya di daerah pesisir pantai utara pulau Jawa menjadi favorit untuk menimba ilmu agama Islam dari pelbagai penjuru Indonesia. Hal ini menjadikan Pati sebagai salah satu kabupaten yang banyak pesantrennya. Desa Kajen kecamatan Margoyoso menjadi pusatnya, karena di desa ini terdapat sekitar 30-an pondok pesantren baik putra maupun putri.
            Oleh karena itu, Pati sesungguhnya mempunyai potensi besar gerakan massif dalam hal karya tulis di kalangan pesantren. Semua elemen gerakan itu sudah mengarah ke sana, tinggal mencari pemantiknya dan upaya kesadaran kolektif untuk membangunnya. Seandainya setiap pesantren menggalakkan tradisi menulis dengan melibatkan kyai, para ustadz, dan para santrinya, betapa maraknya karya-karya tulis di Kabupaten Pati ini. Dari situ akan bermunculan sajak, cerpen, novel, esai, buku, dan kitab-kitab yang ditulis oleh kyai, ustadz, dan santri.
            Tidak hanya itu, kekayaan khazanah lokal Pati juga akan mengemuka secara tidak langsung melalui karya-karya tersebut. Kekayaan tersebut akan mengantarkan kepada kancah global, baik skala nasional maupun internasional. Bukan tidak mungkin Pati menjadi pusat kajian para peneliti dari pelbagai negeri, seperti halnya Pare, sebuah kecamatan di Kediri, yang menjadi terkenal, lantaran karya The Religion of Java, karya Clifford Geertz.
            Dalam dunia baca-tulis di pesantren, sejatinya, Pati menjadi kabupaten yang penuh berkah, karena di sini telah banyak orang yang menekuni dunia ini, mulai dari kyai, ustadz, dan santri. Untuk para santri, mereka biasanya melanjutkan pendidikan formalnya ke pelbagai kota-kota besar, seperti Yogyakarta, Semarang, dan Jakarta. Di sana mereka makin terasah keprigelan menulisnya. Namun, ada juga yang menetap di Pati, dimana sambil menulis, mereka bekerja di lembaga pendidikan, seperti Perguruan Tinggi, Sekolah, dan pesantren.     
            Salah satu kyai yang bisa dikatakan paling menonjol dalam dunia tulis-menulis adalah almarhum KH Sahal Mahfudz. Beliau telah memberikan teladannya. Banyak buku yang telah ditulisnya, baik dalam bahasa Indonesia maupun bahasa Arab, di antaranya Al-Barokatu al- Jumu’ah Thariqat, al-Hushul ila Ghayahal-Ushul, Pesantren Mencari Makna, Al-Bayan al-Mulamma’ ‘an Alfdz al-Lumd, Telaah Fikih Sosial, Nuansa Fiqh Sosial, Ensiklopedi Ijma’ (terjemahan bersama KH. Mustofa Bisri), Al-Tsamarah al-Hajainiyah, Luma’ al-Hikmah ila Musalsalat al-Muhimmat, Al-Faraid al-Ajibah, dll.
            KH Sahal Mahfudz dikenal sebagai ulama yang concern terhadap keilmuan. Sungguh, inilah warisan berharga dari beliau yang patut dijaga dan dilestarikan. Bahkan, sudah seyogyanya kalangan pesantren melanjutkan tradisi menulis beliau tersebut. Tradisi beliau patut dilanjutkan. Bukan tidak mungkin ke depan akan banyak bermunculan gagasan-gagasan penulis dari kalangan pesantren yang diperhitungkan baik secara nasional maupun internasional.
Gerakan Literasi
Oleh karena itu, harus ada upaya bersama untuk memprakarsai gerakan literasi (baca-tulis) dan mengorganisasinya secara tertib dan berkesinambungan. Semua pihak bisa dilibatkan. Langkah awalnya bisa dimulai dengan adanya gerakan budaya membaca yang bisa diinstruksikan oleh semua pimpinan pesantren. Kemudian diadakan lomba kepenulisan, pembacaan puisi, pembahasan buku, maupun lainnya. Setelah itu disusul dengan pelatihan menulis secara kontinu, tidak sekadar workshop satu atau dua hari. 
            Memupuk kemampuan menulis tidak bisa instan. Jadi tidak bisa dilakukan hanya dengan pelatihan “seremonial” belaka dengan durasi waktu satu-dua hari, yakni hanya dengan mendatangkan narasumber yang dianggap mumpuni dalam dunia kepenulisan. Keprigelan menulis adalah proses, oleh karena itu, dalam hal ini, para santri atau pun ustadz yang hendak belajar menulis harus dibimbing secara rutin sampai mereka bisa menulis dengan apik. Waktunya bisa setiap satu minggu 2 kali, atau 1 bulan 6 kali, tergantung kesepakatan.
            Dapat kita bayangkan, apabila program kepenulisan ini bisa berjalan—misalnya—satu tahun penuh, maka apa yang kita harapkan akan terwujud, yakni sebuah gerakan kepenulisan secara massif, dimana para santri dapat memproduksi karya-karyanya lewat pelbagai media, baik media cetak (buku, koran, majalah, buletin, dll.), maupun media online (blog, website, dan media sosial). Dengan demikian tradisi dan warisan menulis yang sudah dicetuskan oleh para ulama terdahulu—khususnya Kiai Sahal—tetap terjaga. Etos inilah yang harus terus digalakan di lingkungan pesantren, agar karya-karyanya menjadi pencerahan bagi khalayak pembaca dan dapat dibaca pula oleh generasi berikutnya.
            Pondok pesantran Maslakul Huda pada tahun 2014 telah memulai langkah gerakan literasi ini. Di bawah tanggung jawab pengelola perpustakaannya, kelas jurnalistik untuk para santri telah dibuka. Bagi para santri yang tertarik dengan dunia tulis-menulis, bisa bergabung di dalamnya, tanpa dibedakan kelas dan angkatan di sekolah maupun pesantrennya. Junior dan senior menjadi satu.
Kelas jurnalistik dibagi dua kelas, yakni kelas putra dan putri. Adapun jadwal pelatihannya pada hari sabtu dan minggu. Mereka dilatih menulis fiksi maupun nonfiksi. Genre fiksi, misalnya cerpen, puisi, dan novel. Sedang genre nonfiksi yaitu opini, esai, dan resensi. Selain di kelas, mereka juga diharuskan belajar menulis menulis di asrama. Mereka diberi buku catatan, dimana setiap hari mereka diharuskan untuk menulis catatan harian, baik itu berisi puisi, cerpen, maupun lainnya, sesuai dengan minat mereka. Karya-karya mereka kemudian dibukukan dan diterbitkan.
Berlatih menulis di kelas dan di luar kelas mesti dilakukan oleh mereka, karena kita tahu bahwa menulis ibarat otot, apabila ingin kuat harus dilatih terus menerus, sehingga mereka menjadi kuat dan terlatih. Dari sini bakat menulis menjadi nomor kesekian, karena apabila menulis sudah menjadi kebiasaan maka siapa saja dari mereka itu akan mampu menulis dengan baik dan sesuai harapan. Kelak dari kelas jurnalistik ini akan muncul santri-santri yang bisa menelurkan karyanya, baik novel, cerpen, puisi, esai, opini, bahkan buku-buku keislaman.
Penerbit yang concern menerbitkan buku keislaman begitu banyak di Indonesia. Tentu ini menjadi lahan besar bagi para santri untuk mengirimkan naskah-naskahnya. Para santri bisa menggali bahan-bahannya dari pelbagai kitab, seperti Ihya Ulumuddin, Al-Hikam, Irsyadul ‘Ibad, Jami’ul ‘Ulum wal Hikam, dan lain-lain. Kekayaan referensi itu sangat memungkinkan bagi para santri untuk mengkajinya dan dijadikan bahan tulisannya lebih baik, ketimbang para penulis yang tidak pernah mengkaji kitab-kitab tersebut dari lingkungan pesantren.  
Semoga program pelatihan jurnalistik di Pondok Pesantren Maslakul Huda ini diikuti juga oleh pondok-pondok pesantren lainnya. Bisa kita bayangkan apabila seluruh pondok di kabupaten Pati melakukan program ini, maka harapan, mimpi, dan cita-cita, pesantren sebagai basis pemunculan karya tulis secara massif mendekati kenyataan.( M. Iqbal Dawami (Pengajar Kepenulisan di Pesantren Maslakul Huda, tulisan ini pernah dimuat di Jurnal Khittah PCNU Pati.)