Meneladani Sosok Imam Syafi’i

Meneladani Sosok Imam Syafi’i

Admin
Jumat, 06 Maret 2015


Muhammad bin Idris yang populer dengan sebutan imam Syafi’i namanya tak asing lagi di telinga masyarakat dunia, bahkan setiap hari ia selalu disebut, di doakan dan pemikirannya diikuti serta diamalkan oleh mayoritas masyarakat Indonesia. Namun, tidak semua masyarakat mengetahui sirah kehidupan dan sosok kepribadiannya. Melalui buku bertajuk Biografi Imam Syafi’i, Tariq Suwaidan dengan sangat detail dan bahasa yang indah menuturkan kisah perjalanan hidup imam Syafi’i dan berbagai pelajaran hidup yang dapat dipetik darinya.
            Imam syafi’i dilahirkan di Ghaza, Palestina pada tahun 150 H, yaitu tahun wafatnya Imam Abu Hanifah, dan wafat pada tahun 204 H. Silsilah nasabnya sangat tinggi, karena nasabnya bertemu dengan nasab Nabi saw, tepatnya di Abdi Manaf sebagai kakek moyang Nabi saw. Ia dilahirkan dalam keadaan yatim dan terbelit kemiskinan, sebab ayahnya meninggal ketika ia masih dalam kandungan. Masa kecilnya dihabiskan bersama ibunya, sosok ibu yang memiliki andil besar dalam membentuk dan membina kepribadian imam Syafi’i.
            Ketika memasuki masa kanak-kanak, dengan bermodal nekat ibu imam Syafi’i mengirimnya ke kota Mekkah untuk belajar Al-Quran dan menulis kepada beberapa ulama setempat, karena pada waktu itu ibunya dalam keadaan miskin, sehingga tidak mampu memberi bayaran kepada para guru imam Syafi’i. Ketika di Mekkah, kecerdasan dan ketekunan imam Syafi’i telah terlihat. Para guru imam Syafi’i terkagum-kagum dengan kecerdasan dan ketekunannya, hingga akhirnya imam Syafi’i dibebaskan dari biaya pendidikan. Para periode ini imam Syafi’i telah hafal Al-Qur’an diusia 7 tahun, dan hafal kitab al-Muaththa’ karya imam Malik di usia 10 tahun.
            Dalam mencari ilmu imam Syafi’i adalah sosok pengembara. Setelah di Mekkah, ia melanjutkan rihlah ilmiah-nya ke dusun Bani Huzail, suku Arab yang paling fasih bahasanya. Di sana ia mengahafal syair-syair, mempelajari sejarah, kesastraan, adat istiadat, dan militer, seperti belajar memanah dan naik kuda. Setelah itu, ia melanjutkan pengembaraannya ke Madinah untuk belajar hadits, fikih dan sastra dengan imam Malik hingga imam Malik wafat. Di sinilah imam Syafi’i mengaji kitab al-Muaththa’ secara langsung dengn imam Malik, kitab hadits yang telah ia hafal ketika belajar di Makkah.
            Imam syafi’i adalah pribadi yang tampan, cerdas, pecinta ilmu dan memiliki suara yang merdu. Karena kemerduan suara bacaan Al-Qurannya, banyak orang yang hanyut dan menangis. Dalam berpakaian, penampilannya sangat sederhana, disertai cincin di jarinya yang bertulis kafa billah tsiqotan li Muhammad ibn Idris (cukuplah Allah Tuhan yang dipercaya Muhammad ibn Idris). Selain itu, imam Syafi’i adalah sosok multitalenta. Ia mempelajari dan menguasai banyak bidang keilmuan, yaitu Al-Quran, hadits, fikih, kalam, sastra, sejarah, budaya, falak, ilmu firasat, militer, ilmu nasab, dan ilmu kedokteran.
            Perjalanan imam Syafi’i tidak sampai di situ saja. Ia terus mengembara ke Yaman dengan tujuan mencari rizki, kemudian ke Irak untuk belajar fikih imam Hanafi, dan pada puncaknya ia pindah ke Mesir hingga akhir hayatnya. Ketika di Irak dan di Mesir imam Syafi’i telah diakui keulamaannya oleh kalangan ulama dan masyarakat. Ia rajin mengajar, membaca, berdebat dengan para ulama setempat. Dengan demikian, pada dirinya terkumpul fikih Irak (fiqh ahlu ra’yu) dan fiqh Hijaz (fiqh ahlu hadits). Pada puncaknya ia menulis kedua maha karyanya dalam bidang fiqh dan ushul fiqh, yaitu, kitab Al-Um dan Al-Risalah, dan ditahbiskan sebagai pencetus ilmu ushul fiqh.
            Al-Risalah adalah kitab pertama yang disusun imam Syafi’i dibidang ushul fiqh. Dalam kitab ini, imam Syafi’i menetapkan dasar-dasar dan metodologi istinbath hukum fiqh, dan menjelaskan tentang kondisi ahli kitab, pengutusan Nabi saw, ilmu dan kedudukan manusia di hadapan ilmu. Ia juga membahas mengenai Al-Quran dan kedudukannya, Hadits, al-Bayan, nasikh dan mansukh, ijma’, qiyas, dan sebagainya. Dalam kitab ini ia juga mengatakan, bahwa syari’at Islam tetap berlaku di setiap zaman dan tempat. Sedangkan Al-Um adalah karya terbesar kedua imam Syafi’i dalam bidang fiqh. Kitab ini sangat besar dan menghimpun seluruh kitab kecil dan masalah-masalah yang ditulis imam Syafi’i atau didektekan. Kitab ini hingga saat ini menjadi referensi utama bagi setiap masalah-masalah fiqh Syafi’i.  
            Banyak keteladanan yang bisa dipetik dari sosok imam Syafi’i. Pertama, imam Syafi’i adalah pribadi yang haus dan cinta akan semua ilmu (multidispliner). Hal itu terbukti dengan pengembaraannya ke berbagai daerah dengan tujuan mencari ilmu, dan ia juga banyak menguasai bidang keilmuan. Kedua, imam Syafi’i adalah pribadi yang rajin beribadah dan warak. Ia membagi malamnya menjadi tiga bagian; sepertiga untuk menulis, sepertiga untuk sholat, dan sepertiga lagi untuk tidur. Ketiga, imam Syafi’i juga pribadi yang zuhud dan memiliki ketulusan dalam mencari kebenaran dalam berpendapat, sehingga tak segan-segan ia bersebrangan dengan imam Malik gurunya sendiri. Keempat, imam Syafi’i juga seorang dermawan dan penyabar. Ia rajin bersedekah dan membantu orang lain walaupun ia sendiri dalam keadaan miskin. Keenam, imam Syafi’i juga pribadi yang santun dalam berdebat dan hati-hati dalam berfatwa. Ia tidak berkenan berdepat dengan orang bodoh. Menurutnya berdebat tujuannya mencari kebenaran, bukan mencari menang atau kalah.
            Dengan kesempurnaan sosok imam Syafi’i, semua ulama pada zamannya mengakui kehebatannya dan memuji-mujinya. Imam Ibnu Hanbal salah seorang muridnya berkata, “Tak ada orang yang paling sedikit salahnya saat berbicara tentang ilmu dan lebih banyak mengambil sunnah Rasulullah saw, dari Syafi’i”. Abu Mansyur al-Azhari menuturkan, “Aku telah mengaji semua kitab yang dikarang oleh para ahli fiqh negeri-negeri Islam. Kulihat kitab Syafi’i paling dalam ilmunya, paling fasih, dan paling luas wawasannya”. Ishaq ibn Rahawiyah juga berkata, “Syafi’i adalah imam para ulama. Tak ada orang yang mengandalkan rakyu (akal) kecuali Syafi’i lebih sedikit kesalahannya dari orang itu. Syafi’I betul-betul seorang imam.  
            Buku setebal 332 ini sangat inspiratif dan menggugah jiwa pembaca untuk meneladani sosok imam Syafi’i. Berbagai mutiara hikmah kehidupan bertebaran di dalamnya. Karena itu, buku ini sangat dianjurkan kepada siapa saja yang ingin meraih hidup sukses, bahagia, dan menjadi tokoh besar seperti imam Syafi’i, terutama kepada sebagian besar warga nahdliyin di Indonesia yang mengikuti madzhabnya.  (Penulis adalah Ketua Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumberdaya Manusia (LAKPEDAM) PCNU Pati)     
            

Judul Buku                  : Biografi Imam Syafi’i
Penulis                        : Tariq Suwaidan
Penerbit                      : Zaman
Jumlah Halaman          : 332 hlm
Cetakan                      :  I, 2015
ISBN                          : 978-602-1687-39-0
Peresensi                     :Andi As-Syarqowi